Langsung ke konten utama

Postingan

Pengalaman Pesan Tiket Kereta di Traveloka

Pagi sekitar jam sembilan di bulan November 2017, saat saya duduk manis di kantor dan mengecek email, saya melihat di tab promosi ada email dari Traveloka, “Suka menulis dan mau liburan gratis ke Eropa?”, begitu subjek email-nya. Saya yang memang suka menulis dan pengguna Traveloka, jelas tertarik dengan kontes ini. Kapan lagi, kan, ya, dari menulis kita bisa jalan-jalan ke Eropa, gratis pula. Hal ini tentu saja sekaligus menjadi jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan dari orang sekitar, “Buat apa tho nulis-nulis segala?”. “Hei, saya di Eropa, hasil dari menulis.” Mungkin kalimat itu yang akan saja jadikan caption buat foto saya dengan background Colosseum di Italia nanti. Sedikit sombong memang, tapi, ya, bagimana.
Sebenarnya, tab promosi di email saya itu jarang sekali saya baca, saya hanya buka lalu sellect all dan hapus. Tidak tahu karena apa, pagi itu saya membaca email paling bawah, dan itu email kontes ini. Mungkin ini yang dinamakan jodoh. Saya ikut kontes, menang, dan jalan-jal…
Postingan terbaru

(Cerpen) Racauan Pemuda Tanggung

Pertama, “Fakhri, nak, bangun.”
Kedua, “Fakhrii, bangun, nak.”
Ketiga, “Fakhriii, bangun. Banguuun!!!”
Ibu bilang aku terbangun pada ketujuh kalinya ibu membangunkan aku. Aku sedang bermimpi berada di surga, tempat terindah yang pernah ada bagi orang yang pantas. Di sana, istriku ada tujuh puluh tujuh orang, semuanya wanita, semuanya berambut panjang, semuanya cantik tak tertahankan. Aku kewalahan.
Belek di mata belum tuntas kubersihkan, suara Symphony 40 Mozart terdengar dari kamar sebelah, kamar adik perempuanku. Oh Mozart, kau ciptakan alunan maha indah seperti itu saat kau sedang bercinta dengan siapa? Dengan gaya apa kau melakukannya? Oh Mozart, beri tahu aku.
“Fakhriii...!!” Ibu kembali memanggil, dengan suara yang lebih keras. “Bangun, mandi!!”
Oh Mozart, aku baru bangun, ibu sudah menyuruhku mandi, aku sedang mendengarkanmu, tolong beri tahu ibu bahwa aku sedang mendengarkanmu. Perkara sepele seperti mandi tak pantas mengganggu kenikamatan alunan maha indah darimu. Oh Mozart,…

Terpujilah Jiwa-jiwa

Terpujilah jiwa-jiwa yang berani mencoba dulu berjalan menggunakan kaki sendiri,  walau terpincang-pincang di awal,  walau terjatuh di awal,  walau hancur-lebur dan rusak-binasa di awal,  tapi terpujilah jiwa-jiwa itu.
Terpujilah terpujilah terpujilah.











Review Buku Kiat Sukses Hancur Lebur – Martin Suryajaya

Saya bertemu buku ini dalam sebuah acara pameran buku yang diselenggarakan di Gedung Wanita Semarang. Saat itu, Kiat Sukses Hancur Lebur terpampang jelas di rak buku sebuah stand yang berada tepat di depan pintu masuk gedung ini. Saya terkejut saat membaca judulnya, untuk menjadi hancur lebur pun ada kiat-kiatnya, itulah pikiran saya waktu itu. 

Lantas saya berjalan mengelilingi stand-stand buku yang ada, saya membeli dua buku terbitan baNana yang lain—penerbit yang sama dengan Kiat Sukses Hancur Lebur, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dan The Catcher in the Rye. Kiat Sukses Hancur Lebur saya “tinggalkan” begitu saja. 

Beberapa bulan setelah itu, seorang teman mengajak saya untuk menghadiri acara Bincang Buku bersama penulisnya di malam tahun baru, Kiat Sukses Hancur Lebur, Martin Suryajaya.
Pembuka novel ini adalah sebuah paragraf yang dibuat melantur, seperti orang mabuk ciu literan yang dioplos sesuka hati:

Kampus Fiksi 18 Yogyakarta

Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.
—Menjadi Tua di Jakarta, Seno Gumira Ajidarma

Tanggal 25-28 November 2016 kemarin, saya pergi ke Jogja untuk mengikuti Kampus Fiksi yang diadakan oleh penerbit DIVA Press. Sedikit tentang Kampus Fiksi, jadi Kampus Fiksi itu adalah acara tulis-menulis, untuk bisa berada di sana, kita kudu mengikuti seleksi masuknya dengan cara mengirim satu cerpen terbaik. Cerpen-cerpen itu nantinya akan dipilih oleh tim, penulis yang terpilih akan diundang untuk datang ke Jogja. Di sana kita akan dibimbing, diajari, dan diberi tahu tentang dunia kepenulisan dan serba-serbinya. Hal istimewanya adalah, acara itu gratis segratis-gratisnya. Jangan tanya tidur dimana, makannya gimana, mandi dan segala macamnya, semua sudah disediakan. Kita pesert…

Tidak Ada Cerita Tentang Wisuda

Kemarin saya wisuda, dan acaranya berlangsung sangat, biasa saja. Cenderung bikin ngantuk.
Tidak ada yang istimewa, kecuali kehadiran dan senyum wanita-wanita ini. Kau tahu? Beberapa orang saja dalam hidupmu, tidak banyak, mungkin tidak lebih dari 20 orang, sangat bisa membuat hidupmu bahagia dan berarti. Kualitas. Dan yang bisa berbuat yang demikian itu hanya manusia yang benar-benar manusia, bicara manis di depan juga manis di belakang. They did it.















Ya, tidak ada cerita tentang wisuda jika mereka tak hadir, menjabat tangan saya, memeluk, dan mendaratkan kasih sayang di pipi kanan dan kiri.