22.4.13

Seperti Sungai yang Mengalir

Isabelita menceritakan kisah berikut ini pada saya. Seorang Arab yang sudah tua dan tidak bisa baca-tulis, selalu berdoa dengan khusyuk setiap malam, sampai-sampai seorang pemilik karavan besar yang kaya raya memutuskan untuk memanggilnya dan mengajak bicara.

"Mengapa kau berdoa begitu khusyuk? Bagaimana kau tahu bahwa tuhan benar-benar ada, sedangkan membaca pun kau tidak bisa?"

"Saya tahu, tuan. Saya bisa membaca semua yang dituliskan Tuhan Alam Semesta ini."

"Bagaimana caranya?"

Orang tua yang bersahaja itu menjelaskan.

"Kalau tuan menerima surat dari seseorang yang tinggal di tempat jauh, bagaimana tuan mengenali siapa pengirim surat itu?"

"Lewat tulisan tanganya"

"Kalau tuan menerima sebentuk permata, bagaimana tuan tahu siapa pembuatnya?"

"Lewat ciri khas pandai emas itu"

"Kalau tuan mendengar binatang-binatang berkeliaran di dekat perkemahan, bagaimana tuan tahu apakah binatang itu domba, kuda, atau sapi jantan?"

"Lewat jejak-jejak kakinya" sahut si pemilik karavan yang terheran-heran dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Orang tua itu mengajaknya ke luar dan menunjukkan langit kepadanya.

"Semua yang tertulis di atas sana, maupun yang dibawah sini, tidak mungkin dibuat atau ditulis oleh tangan manusia."



Ps : Cerita diatas adalah salah satu bab dari buku "Seperti Sungai yang Mengalir" karya Paulo Coelho. Banyak orang berpendapat bahwa, penulis yang baik adalah penulis yang mampu menggerakan pembacanya. Dan saya tergerak membagikan tulisan ini.

Ayok yang lagi banyak rezeki, yang suka baca, main ke toko buku terus bawa pulang buku kece ini. Keburu stocknya habis.


google.com

PASSION


Sering sekali akhir-akhir ini saya mendengar kata passion, terutama diacara televisi. Kemarin diacaranya Dedy Corbuzier passion dibahas dengan apik. Bagian pentingnya selalu diakhir dari acara itu, Dedy mengutip kalimat dari Paulo Coelho, yaitu “ketika anda memiliki keinginan yang luar biasa maka alam semesta akan mendukung anda. Tetapi pertanyaanya, apa passion anda?”  *ditujlebtujlebpassion*

Ketika kita mengerjakannya dengan ikhlas dan terus menerus, itu passion, dimana kita tidak peduli dengan omongan negative dari orang tentang apa yang kita kerjakan. Kita akan mengorbakan banyak hal untuk itu dan tetap merasa senang, itu passion. Saat kita berfikir tidak ada ukuran harta nantinya, saat itulah passion harus dicumbu.

Passion adalah rasa yang sangat nyaman ketika kita mempelajari dan menekuninya, kita tidak peduli lagi dengan anggapan jelek orang tentang passion yang kita miliki. Apalagi hanya tentang jurusan kuliah yang kita ambil, misalnya kita mahasiawa “Sastra Indonesia,” ada orang ngomong “mau jadi apa kamu ambil jurusan itu?” Jadi apa itu tidak ada yang bisa memastikan, kalau prospek kedepan banyak sekali pilihanya. Orang seperti itu tidak masuk kategori orang baik, karena orang itu mendahulukan berkomentar daripada anjuran untuk saling berkasih sayang. Tidak ada rasa malu kalau jurusan yang kita ambil tidak bergengsi menurut mereka *menurut mereka hlo ya*, passion lebih kuat dari sekedar anggapan murahan seperti itu.

Passion lebih penting, bahkan sangat jauh jaraknya dari sekedar jurusan kuliah. Siapa yang berani menjamin antara mahasiswa Kedokteran dan Sastra Indonesia akan lebih sukses mahasiswa Kedokteran ? Mungkin kalau sukses secara keuangan banyak yang memilih kedokteran, tetapi passion bukan masalah harta, passion masalah hati dan keikhlasan ketika mengerjakanya.

Ketika kita menemukan passion kita, sejelek apapun hasil kita awalnya, rasa malu tetap 0% kadarnya didalam hati (terbukti pada saya).

Passion : Pleasure, Meaning, and Emotion.

Ceritanya diakhir tulisan diakhiri dengan do’a :

“Ya Allah berilah jalan terbaik untuk passion saya dan yang membaca tulisan jelek saya ini. Amin”

SUARA ITU

ujangerwin.wordpress.com




“Dastan, kamu tidak mengerjakan PR lagi?”

Suara itu tetap setia diingatan Dastan, dari sepuluh tahun lalu sampai sekarang, sampai Dastan menjadi mahasiswa. Suara itu selalu terdengar olehnya, suara yang berbeda nada dengan suara lainya, suara yang membuat Dastan tetap berangkat sekolah. Ya, sepuluh tahun lalu Dastan masih SD, anak sekolah dasar kelas empat berumur sepuluh tahun, anak yang sering tidak mengerjakan PR  dan selalu disuruh oleh ibu guru mengerjakanya diluar kelas.

Pernah suatu ketika, si pemilik suara itu sengaja keluar kelas hanya untuk membantu Dastan mengerjakan PR. Alhasil, mereka berdua dilarang pulang oleh ibu guru sebelum menyapu kelas. Si pemilik suara ini memang aneh, Destia namanya.

19.4.13

rumput gerimis


Sabtu selalu mempunyai kisah sendiri, seperti rumput dan gerimis yang menjadi bagian dari kisah itu. Mereka bertemu karena sabtu, sabtu memang baik. Berikut ini kisah rumput dan gerimis.

Sabtu : “Rumput, ini gerimis. Gerimis, ini rumput.”

“Hei gerimis, senang bertemu denganmu. Jangan memanggil temanmu lagi ya, nanti kamu bertambah banyak, kamu bukan lagi gerimis, kamu menjadi hujan.”

“Iya rumput.”

“Umm gerimis, aku heran sama kamu?”

“Kenapa?”

             “Apakah kamu tidak lelah, berjalan dari awan sampai bumi?”

“Itu sudah menjadi kewajibanku, dan tidak ada jalan lain kecuali ke bumi.”

“Apakah diawan tidak menyenangkan, sehingga kamu harus ke bumi?”

“Disana sangat menyenangkan, bahkan kamu bisa melihat semua isi bumi. Dari awan, bumimu ini terlihat biru, sebiru langit ketika aku masih tidur. Tetapi setelah sampai ke bumi, ternyata warnanya hitam, coklat, bahkan ada yang merah, dan itu membuatku yang putih jernih menjadi keruh. Jarak memang bisa menipu.”

Untuk Adik Perempuanku

Hai.. Apa kabarmu? 19 tahun, ya? Dulu, duluuu sekali saat aku seusiamu, aku adalah seorang laki-laki, sekarang juga masih, dan akan ...