Langsung ke konten utama

PASSION


Sering sekali akhir-akhir ini saya mendengar kata passion, terutama diacara televisi. Kemarin diacaranya Dedy Corbuzier passion dibahas dengan apik. Bagian pentingnya selalu diakhir dari acara itu, Dedy mengutip kalimat dari Paulo Coelho, yaitu “ketika anda memiliki keinginan yang luar biasa maka alam semesta akan mendukung anda. Tetapi pertanyaanya, apa passion anda?”  *ditujlebtujlebpassion*

Ketika kita mengerjakannya dengan ikhlas dan terus menerus, itu passion, dimana kita tidak peduli dengan omongan negative dari orang tentang apa yang kita kerjakan. Kita akan mengorbakan banyak hal untuk itu dan tetap merasa senang, itu passion. Saat kita berfikir tidak ada ukuran harta nantinya, saat itulah passion harus dicumbu.

Passion adalah rasa yang sangat nyaman ketika kita mempelajari dan menekuninya, kita tidak peduli lagi dengan anggapan jelek orang tentang passion yang kita miliki. Apalagi hanya tentang jurusan kuliah yang kita ambil, misalnya kita mahasiawa “Sastra Indonesia,” ada orang ngomong “mau jadi apa kamu ambil jurusan itu?” Jadi apa itu tidak ada yang bisa memastikan, kalau prospek kedepan banyak sekali pilihanya. Orang seperti itu tidak masuk kategori orang baik, karena orang itu mendahulukan berkomentar daripada anjuran untuk saling berkasih sayang. Tidak ada rasa malu kalau jurusan yang kita ambil tidak bergengsi menurut mereka *menurut mereka hlo ya*, passion lebih kuat dari sekedar anggapan murahan seperti itu.

Passion lebih penting, bahkan sangat jauh jaraknya dari sekedar jurusan kuliah. Siapa yang berani menjamin antara mahasiswa Kedokteran dan Sastra Indonesia akan lebih sukses mahasiswa Kedokteran ? Mungkin kalau sukses secara keuangan banyak yang memilih kedokteran, tetapi passion bukan masalah harta, passion masalah hati dan keikhlasan ketika mengerjakanya.

Ketika kita menemukan passion kita, sejelek apapun hasil kita awalnya, rasa malu tetap 0% kadarnya didalam hati (terbukti pada saya).

Passion : Pleasure, Meaning, and Emotion.

Ceritanya diakhir tulisan diakhiri dengan do’a :

“Ya Allah berilah jalan terbaik untuk passion saya dan yang membaca tulisan jelek saya ini. Amin”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Ada Cerita Tentang Wisuda

Kemarin saya wisuda, dan acaranya berlangsung sangat, biasa saja. Cenderung bikin ngantuk.
Tidak ada yang istimewa, kecuali kehadiran dan senyum wanita-wanita ini. Kau tahu? Beberapa orang saja dalam hidupmu, tidak banyak, mungkin tidak lebih dari 20 orang, sangat bisa membuat hidupmu bahagia dan berarti. Kualitas. Dan yang bisa berbuat yang demikian itu hanya manusia yang benar-benar manusia, bicara manis di depan juga manis di belakang. They did it.















Ya, tidak ada cerita tentang wisuda jika mereka tak hadir, menjabat tangan saya, memeluk, dan mendaratkan kasih sayang di pipi kanan dan kiri. 


(Cerpen) Racauan Pemuda Tanggung

Pertama, “Fakhri, nak, bangun.”
Kedua, “Fakhrii, bangun, nak.”
Ketiga, “Fakhriii, bangun. Banguuun!!!”
Ibu bilang aku terbangun pada ketujuh kalinya ibu membangunkan aku. Aku sedang bermimpi berada di surga, tempat terindah yang pernah ada bagi orang yang pantas. Di sana, istriku ada tujuh puluh tujuh orang, semuanya wanita, semuanya berambut panjang, semuanya cantik tak tertahankan. Aku kewalahan.
Belek di mata belum tuntas kubersihkan, suara Symphony 40 Mozart terdengar dari kamar sebelah, kamar adik perempuanku. Oh Mozart, kau ciptakan alunan maha indah seperti itu saat kau sedang bercinta dengan siapa? Dengan gaya apa kau melakukannya? Oh Mozart, beri tahu aku.
“Fakhriii...!!” Ibu kembali memanggil, dengan suara yang lebih keras. “Bangun, mandi!!”
Oh Mozart, aku baru bangun, ibu sudah menyuruhku mandi, aku sedang mendengarkanmu, tolong beri tahu ibu bahwa aku sedang mendengarkanmu. Perkara sepele seperti mandi tak pantas mengganggu kenikamatan alunan maha indah darimu. Oh Mozart,…

Review Buku Kiat Sukses Hancur Lebur – Martin Suryajaya

Saya bertemu buku ini dalam sebuah acara pameran buku yang diselenggarakan di Gedung Wanita Semarang. Saat itu, Kiat Sukses Hancur Lebur terpampang jelas di rak buku sebuah stand yang berada tepat di depan pintu masuk gedung ini. Saya terkejut saat membaca judulnya, untuk menjadi hancur lebur pun ada kiat-kiatnya, itulah pikiran saya waktu itu. 

Lantas saya berjalan mengelilingi stand-stand buku yang ada, saya membeli dua buku terbitan baNana yang lain—penerbit yang sama dengan Kiat Sukses Hancur Lebur, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dan The Catcher in the Rye. Kiat Sukses Hancur Lebur saya “tinggalkan” begitu saja. 

Beberapa bulan setelah itu, seorang teman mengajak saya untuk menghadiri acara Bincang Buku bersama penulisnya di malam tahun baru, Kiat Sukses Hancur Lebur, Martin Suryajaya.
Pembuka novel ini adalah sebuah paragraf yang dibuat melantur, seperti orang mabuk ciu literan yang dioplos sesuka hati: