Langsung ke konten utama

rumput gerimis


Sabtu selalu mempunyai kisah sendiri, seperti rumput dan gerimis yang menjadi bagian dari kisah itu. Mereka bertemu karena sabtu, sabtu memang baik. Berikut ini kisah rumput dan gerimis.

Sabtu : “Rumput, ini gerimis. Gerimis, ini rumput.”

“Hei gerimis, senang bertemu denganmu. Jangan memanggil temanmu lagi ya, nanti kamu bertambah banyak, kamu bukan lagi gerimis, kamu menjadi hujan.”

“Iya rumput.”

“Umm gerimis, aku heran sama kamu?”

“Kenapa?”

             “Apakah kamu tidak lelah, berjalan dari awan sampai bumi?”

“Itu sudah menjadi kewajibanku, dan tidak ada jalan lain kecuali ke bumi.”

“Apakah diawan tidak menyenangkan, sehingga kamu harus ke bumi?”

“Disana sangat menyenangkan, bahkan kamu bisa melihat semua isi bumi. Dari awan, bumimu ini terlihat biru, sebiru langit ketika aku masih tidur. Tetapi setelah sampai ke bumi, ternyata warnanya hitam, coklat, bahkan ada yang merah, dan itu membuatku yang putih jernih menjadi keruh. Jarak memang bisa menipu.”

Gerimis pun pergi dan berganti terang.

“Hei minggu. Kamu orang kedua yang mempertemukanku pada gerimis setelah sabtu, terima kasih ya,” ucapan rumput pada minggu ketika gerimis datang lagi.

“Gerimis, kenapa kemarin tidak berpamitan kalau kamu akan kembali ke awan?” sapa rumput pada gerimis.

“Maaf rumput, aku terlalu lama dibumi dan terlalu keruh, aku membersihkan diriku diawan untuk bertemu lagi denganmu hari ini.”


Kalian tahu perasaan rumput ketika mendengar ucapan gerimis? Benih-benih cinta mulai tumbuh dihatinya. Cinta memang mudah, bertemu, bersapa kemudian jatuh cinta.


“Rumput, bolehkah aku menjadikan punggungmu sebagai landasan ketika aku jatuh?”

“Boleh sekali, lakukan saja kapanpun kamu mau.”

“Tapi tidak hanya itu, kamu harus menjagaku agar tidak jatuh kebumi, agar aku tetap putih jernih dipunggungmu, agar aku tidak perlu kembali ke awan membersihkan diri dan berpisah denganmu.”

“Apapun asalkan untuk kamu.”


Tetapi gerimis pergi lagi tanpa pamit.


“Hei minggu. Kenapa kamu tidak melarangnya untuk tidak pergi? Atau hanya sekedar menyuruhnya berpamitan padaku?” Tanya rumput pada minggu, tetapi tak ada jawaban dari minggu.


***


“Hei senin. Apakah kamu akan sama dengan sabtu dan minggu, yang mempertemukanku pada gerimis lalu memisahkannya begitu saja?” Senin tak menjawab pertanyaan dari rumput, ia hanya diam.


“Hei rumput. Maaf, kemarin aku tidak sempat berpamitan, maafin aku ya?”

“Hei gerimis. Sekarang kamu harus membawaku bersamamu ke awan, baru aku akan memaafkanmu, dan aku tidak ingin berpisah lagi denganmu, tidak karena sabtu, minggu, maupun senin.”

“Apapun asal untuk kamu. Nanti kita jalan-jalan melihat bintang, matahari dan bulan. Bulan menjadi tempat paling indah diatas sana. Kita ukir jejak disana, jejak yang tidak akan pernah bisa hilang, karena tidak ada angin yang menerbangkan debu untuk menutup jejek kita. Tetapi kamu harus berjanji?”

“Apa?”

“Kamu harus tetap menggendongku, agar aku tidak keruh disana.”

“Siap gerimis cantik, apapun asal untuk kamu.”


Lagi-lagi gerimis pergi tanpa pamit, bahkan setelah janji manis diucapkan. Dan rumput lagi-lagi bersedih.


***



“Hei selasa. Kemarin, senin membiarkan gerimis pergi begitu saja, kamu jangan melakukanya ya?”

Rumput pun tampil setampan  mungkin karena akan diajak kebulan. Setelah semua siap, ia duduk menunggu. Detakan jantungnya begitu keras, sampai-sampai kancing bajunya akan copot karenanya. Tetapi gerimis tidak kunjung datang, ia mengingkari janjinya, ia menemui rumput lain ditempat lain.

Rabu pun datang. Rumput sumringah sekali, mungkin gerimis akan datang hari ini. Tetapi yang ditunggu tak datang lagi.

Kamis berlalu begitu saja.

Pun jum’at, tak memberi kabar kemana gerimis pergi.

Dan sabtu, akhirnya rumput angkat bicara hari ini.

“Hei sabtu. Taukah kamu kemana temanmu pergi? Dan kenapa ia tidak menepati janjinya?”


Sabtu hanya diam. Hari berganti lagi. Rumput tetap merenung mununggu gerimis, sekarang tubuhnya mulai mengurus

Sebulan berlalu. Rumput mulai memakan persediaan airnya, karena gerimis tak kunjung datang. Gerimis sudah menjadi  sumber energi terbesar dalam hidupnya.

Empat bulan berlalu. Siapa pula yang tega memisahkan rumput dengan gerimis? Siapa pula yang tega mengambil janji yang bahkan belum terbuat sempurna? Siapa pula yang melakukanya? Adalah kemarau yang memisahkan mereka. Merenggut semuanya, merenggut kebahagiaan yang bahkan belum terjadi, kemarau memang jahat.

Enam bulan sudah. Rumput kehilangan semuanya. Punggungnya yang menjadi landasan  sudah mengering, jatuh ke bumi. Daun-daunnya yang dahulu hijau berseri, kini coklat serupa bumi. Ia tak sanggup lagi berdiri, ia nelangsa karena gerimis, ia nelangsa separuh hatinya dibawa gerimis entah kemana, ia lemah karena cinta. Terkadang cinta memang aneh, cinta memang penuh dengan keterkadangan, bisa menjadi virus yang sewaktu-waktu membunuh kita.
                                                                                                 
Setelah semua kesabaran rumput tinggal menyisakan ampas, setelah persedian air habis, dan nyawapun tinggal menyisakan jari kelingking untuk terlepas. Kemarau berbaik hati, ia pergi dengan bibir melebar. Akhirnya separuh hati rumput kembali. Adalah gerimis dengan senyum termanis abad itu melesat dari awan bak elang menerkam kelinci, untuk menemui rumput. Tetapi kali ini, tak ada landasan dari rumput, gerimis jatuh ketanah dan menjadi keruh, dan itu yang membuat kuat jari kelingking rumput untuk menarik nyawanya kembali. Rumput pun terselamatkan oleh cintanya.

Lagi-lagi cinta memang aneh. Bisa menjadi racun pun  sekaligus menjadi penawarnya.

Hijaunya rumput telah kembali, dan ketika dia telah sempurna berdiri, ia berucap, “Hei sabtu. Ternyata kamu baik, kamu mempertemukan kita lagi, terima kasih ya.”

Untuk kesekian kalinya, cinta memang aneh. Masih bisa memaafkan, bahkan ketika kecenderungan untuk mengulangi kesalahan yang sama sangat besar.

Seakan tak mendengar ucapanku kalau cinta itu aneh, rumput tetap menggendong gerimis, gerimis pun memeluknya erat-erat, mereka tak mau berpisah lagi, tetapi mereka belum tahu kalau kemarau akan datang lagi.


@fachriley

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan-catatan Kecil

Holaaa...
Jadi gini, ini adalah buku kecil yang saya tulis khusus untuk Pak Hanggoro dan teman-teman Teknik Sipil Unnes. Pak Hanggoro itu siapa? Beliau adalah salah satu dosen di Teknik Sipil. Buku ini menceritakan perjalanan singkat kami dari semester 1 sampai akhirnya sidang TA (Tugas Akhir). Saya yakin buku ini tidak dapat mewakili semua kejadian yang ada, namun inilah persembahan saya untuk teman-teman seperjuangan, semoga berkenan dan menjadi pengingat di hari kelak. Dan kalian bisa mengunduhnya secara gratis.
Unduh di sini.
Penampakan bukunya...




Terimakasih teman-teman, selamat membaca...

Tidak Ada Cerita Tentang Wisuda

Kemarin saya wisuda, dan acaranya berlangsung sangat, biasa saja. Cenderung bikin ngantuk.
Tidak ada yang istimewa, kecuali kehadiran dan senyum wanita-wanita ini. Kau tahu? Beberapa orang saja dalam hidupmu, tidak banyak, mungkin tidak lebih dari 20 orang, sangat bisa membuat hidupmu bahagia dan berarti. Kualitas. Dan yang bisa berbuat yang demikian itu hanya manusia yang benar-benar manusia, bicara manis di depan juga manis di belakang. They did it.















Ya, tidak ada cerita tentang wisuda jika mereka tak hadir, menjabat tangan saya, memeluk, dan mendaratkan kasih sayang di pipi kanan dan kiri. 


(Cerpen) Racauan Pemuda Tanggung

Pertama, “Fakhri, nak, bangun.”
Kedua, “Fakhrii, bangun, nak.”
Ketiga, “Fakhriii, bangun. Banguuun!!!”
Ibu bilang aku terbangun pada ketujuh kalinya ibu membangunkan aku. Aku sedang bermimpi berada di surga, tempat terindah yang pernah ada bagi orang yang pantas. Di sana, istriku ada tujuh puluh tujuh orang, semuanya wanita, semuanya berambut panjang, semuanya cantik tak tertahankan. Aku kewalahan.
Belek di mata belum tuntas kubersihkan, suara Symphony 40 Mozart terdengar dari kamar sebelah, kamar adik perempuanku. Oh Mozart, kau ciptakan alunan maha indah seperti itu saat kau sedang bercinta dengan siapa? Dengan gaya apa kau melakukannya? Oh Mozart, beri tahu aku.
“Fakhriii...!!” Ibu kembali memanggil, dengan suara yang lebih keras. “Bangun, mandi!!”
Oh Mozart, aku baru bangun, ibu sudah menyuruhku mandi, aku sedang mendengarkanmu, tolong beri tahu ibu bahwa aku sedang mendengarkanmu. Perkara sepele seperti mandi tak pantas mengganggu kenikamatan alunan maha indah darimu. Oh Mozart,…