Langsung ke konten utama

Seperti Sungai yang Mengalir

Isabelita menceritakan kisah berikut ini pada saya. Seorang Arab yang sudah tua dan tidak bisa baca-tulis, selalu berdoa dengan khusyuk setiap malam, sampai-sampai seorang pemilik karavan besar yang kaya raya memutuskan untuk memanggilnya dan mengajak bicara.

"Mengapa kau berdoa begitu khusyuk? Bagaimana kau tahu bahwa tuhan benar-benar ada, sedangkan membaca pun kau tidak bisa?"

"Saya tahu, tuan. Saya bisa membaca semua yang dituliskan Tuhan Alam Semesta ini."

"Bagaimana caranya?"

Orang tua yang bersahaja itu menjelaskan.

"Kalau tuan menerima surat dari seseorang yang tinggal di tempat jauh, bagaimana tuan mengenali siapa pengirim surat itu?"

"Lewat tulisan tanganya"

"Kalau tuan menerima sebentuk permata, bagaimana tuan tahu siapa pembuatnya?"

"Lewat ciri khas pandai emas itu"

"Kalau tuan mendengar binatang-binatang berkeliaran di dekat perkemahan, bagaimana tuan tahu apakah binatang itu domba, kuda, atau sapi jantan?"

"Lewat jejak-jejak kakinya" sahut si pemilik karavan yang terheran-heran dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Orang tua itu mengajaknya ke luar dan menunjukkan langit kepadanya.

"Semua yang tertulis di atas sana, maupun yang dibawah sini, tidak mungkin dibuat atau ditulis oleh tangan manusia."



Ps : Cerita diatas adalah salah satu bab dari buku "Seperti Sungai yang Mengalir" karya Paulo Coelho. Banyak orang berpendapat bahwa, penulis yang baik adalah penulis yang mampu menggerakan pembacanya. Dan saya tergerak membagikan tulisan ini.

Ayok yang lagi banyak rezeki, yang suka baca, main ke toko buku terus bawa pulang buku kece ini. Keburu stocknya habis.


google.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Ada Cerita Tentang Wisuda

Kemarin saya wisuda, dan acaranya berlangsung sangat, biasa saja. Cenderung bikin ngantuk.
Tidak ada yang istimewa, kecuali kehadiran dan senyum wanita-wanita ini. Kau tahu? Beberapa orang saja dalam hidupmu, tidak banyak, mungkin tidak lebih dari 20 orang, sangat bisa membuat hidupmu bahagia dan berarti. Kualitas. Dan yang bisa berbuat yang demikian itu hanya manusia yang benar-benar manusia, bicara manis di depan juga manis di belakang. They did it.















Ya, tidak ada cerita tentang wisuda jika mereka tak hadir, menjabat tangan saya, memeluk, dan mendaratkan kasih sayang di pipi kanan dan kiri. 


(Cerpen) Racauan Pemuda Tanggung

Pertama, “Fakhri, nak, bangun.”
Kedua, “Fakhrii, bangun, nak.”
Ketiga, “Fakhriii, bangun. Banguuun!!!”
Ibu bilang aku terbangun pada ketujuh kalinya ibu membangunkan aku. Aku sedang bermimpi berada di surga, tempat terindah yang pernah ada bagi orang yang pantas. Di sana, istriku ada tujuh puluh tujuh orang, semuanya wanita, semuanya berambut panjang, semuanya cantik tak tertahankan. Aku kewalahan.
Belek di mata belum tuntas kubersihkan, suara Symphony 40 Mozart terdengar dari kamar sebelah, kamar adik perempuanku. Oh Mozart, kau ciptakan alunan maha indah seperti itu saat kau sedang bercinta dengan siapa? Dengan gaya apa kau melakukannya? Oh Mozart, beri tahu aku.
“Fakhriii...!!” Ibu kembali memanggil, dengan suara yang lebih keras. “Bangun, mandi!!”
Oh Mozart, aku baru bangun, ibu sudah menyuruhku mandi, aku sedang mendengarkanmu, tolong beri tahu ibu bahwa aku sedang mendengarkanmu. Perkara sepele seperti mandi tak pantas mengganggu kenikamatan alunan maha indah darimu. Oh Mozart,…

Review Buku Kiat Sukses Hancur Lebur – Martin Suryajaya

Saya bertemu buku ini dalam sebuah acara pameran buku yang diselenggarakan di Gedung Wanita Semarang. Saat itu, Kiat Sukses Hancur Lebur terpampang jelas di rak buku sebuah stand yang berada tepat di depan pintu masuk gedung ini. Saya terkejut saat membaca judulnya, untuk menjadi hancur lebur pun ada kiat-kiatnya, itulah pikiran saya waktu itu. 

Lantas saya berjalan mengelilingi stand-stand buku yang ada, saya membeli dua buku terbitan baNana yang lain—penerbit yang sama dengan Kiat Sukses Hancur Lebur, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dan The Catcher in the Rye. Kiat Sukses Hancur Lebur saya “tinggalkan” begitu saja. 

Beberapa bulan setelah itu, seorang teman mengajak saya untuk menghadiri acara Bincang Buku bersama penulisnya di malam tahun baru, Kiat Sukses Hancur Lebur, Martin Suryajaya.
Pembuka novel ini adalah sebuah paragraf yang dibuat melantur, seperti orang mabuk ciu literan yang dioplos sesuka hati: