Langsung ke konten utama

Jomblo? Keren!



Hai mblo, bagaimana kabarnya? Masih berani hidup? Kata banyak orang, hidup menyandang predikat jomblo itu hina, hina sekali. Bagaimana? Kuat?

Banyak orang? Siapa yang berani mengatakan demikian? Jomblo dan hina itu dua wujud yang sangat jauh berbeda, jauh sekali. Kalau ada orang yang mengatakan kalian hina gara-gara tidak punya pacar, sesungguhnhya yang benar-benar hina itu mereka, mereka yang berpacaran tetapi menghina yang jomblo. Dalam hal baik saja dilarang apalagi dalam hal tidak baik, bingung? Begini maksutnya: ketika kita mempunyai hal baik, contoh mobil baru, pamer dan menghina orang yang tidak mempunyai mobil saja tidak boleh. Ini dalam hal baik, mobil. Apalagi pacar, yang jelas dilarang Allah.

Pacar dan jomblo, dua pilihan yang sangat menentukan pergaulan jaman sekarang, kata banyak orang. Banyak orang lagi, kapan sedikitnya? Tidak bisa dipungkiri pula, kalau kalian punya pacar, kalian akan terlihat keren dimata teman-teman kalian. Terlihat laku. Ketika ada acara kampus dan kalian datang sama pacar, lalu dikenalin ke teman-teman, maka derajat kalian akan naik. Ssst tapi tunggu, keren dimata teman apa artinya dibandingkan keren dimata Allah? Dan kalau kalian jomblo, tidak akan disapa, dikucilkan dari pergaulan, dianggap manusia asing, dan kalau ada acara kampus, kalian tidak akan diundang, karena jomblo. *abaikan kalimat terakhir saya*

Lagi-lagi menurut banyak orang, mereka berpikir tidak punya pacar itu karena kurang cantik atau ganteng, kurang pergaulan, penampilan kurang oke, duitnya sedikit, dan seterusnya, dan setelah seterusnya. Baaah pemikiran seperti apa itu? Kenapa tidak berpikir, Allah itu sangat menyayangi kita, sehingga untuk pacaran kita dilarang-Nya. Allah sangat menyayangi saya dan kalian yang jomblo, Dia tidak mau melihat kita berbuat dosa atau mungkin Dia tidak berkenan kalau dosa kita berasal dari hal yang sudah jelas laranganya: haram. Saran saya buat banyak orang itu: “Mulailah berpikir dari sudut pandang yang istimewa.”

Jadi, buat kalian yang jomblo, jangan malu, yang seharusnya malu itu mereka yang pacaran, kenapa? Karena bangga berbuat dosa dan memamerkanya.

Dan saat nanti ada orang yang bertanya karena tulisan saya ini: “Kamu menulis ini karena kamu jomblo kan? Dan kamu iri kepada mereka yang pacaran?”
Ma’af, saya sudah menyiapkan jawabanya.


Memutar the only exception, paramore.

t : @fachriley

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Ada Cerita Tentang Wisuda

Kemarin saya wisuda, dan acaranya berlangsung sangat, biasa saja. Cenderung bikin ngantuk.
Tidak ada yang istimewa, kecuali kehadiran dan senyum wanita-wanita ini. Kau tahu? Beberapa orang saja dalam hidupmu, tidak banyak, mungkin tidak lebih dari 20 orang, sangat bisa membuat hidupmu bahagia dan berarti. Kualitas. Dan yang bisa berbuat yang demikian itu hanya manusia yang benar-benar manusia, bicara manis di depan juga manis di belakang. They did it.















Ya, tidak ada cerita tentang wisuda jika mereka tak hadir, menjabat tangan saya, memeluk, dan mendaratkan kasih sayang di pipi kanan dan kiri. 


(Cerpen) Racauan Pemuda Tanggung

Pertama, “Fakhri, nak, bangun.”
Kedua, “Fakhrii, bangun, nak.”
Ketiga, “Fakhriii, bangun. Banguuun!!!”
Ibu bilang aku terbangun pada ketujuh kalinya ibu membangunkan aku. Aku sedang bermimpi berada di surga, tempat terindah yang pernah ada bagi orang yang pantas. Di sana, istriku ada tujuh puluh tujuh orang, semuanya wanita, semuanya berambut panjang, semuanya cantik tak tertahankan. Aku kewalahan.
Belek di mata belum tuntas kubersihkan, suara Symphony 40 Mozart terdengar dari kamar sebelah, kamar adik perempuanku. Oh Mozart, kau ciptakan alunan maha indah seperti itu saat kau sedang bercinta dengan siapa? Dengan gaya apa kau melakukannya? Oh Mozart, beri tahu aku.
“Fakhriii...!!” Ibu kembali memanggil, dengan suara yang lebih keras. “Bangun, mandi!!”
Oh Mozart, aku baru bangun, ibu sudah menyuruhku mandi, aku sedang mendengarkanmu, tolong beri tahu ibu bahwa aku sedang mendengarkanmu. Perkara sepele seperti mandi tak pantas mengganggu kenikamatan alunan maha indah darimu. Oh Mozart,…

Review Buku Kiat Sukses Hancur Lebur – Martin Suryajaya

Saya bertemu buku ini dalam sebuah acara pameran buku yang diselenggarakan di Gedung Wanita Semarang. Saat itu, Kiat Sukses Hancur Lebur terpampang jelas di rak buku sebuah stand yang berada tepat di depan pintu masuk gedung ini. Saya terkejut saat membaca judulnya, untuk menjadi hancur lebur pun ada kiat-kiatnya, itulah pikiran saya waktu itu. 

Lantas saya berjalan mengelilingi stand-stand buku yang ada, saya membeli dua buku terbitan baNana yang lain—penerbit yang sama dengan Kiat Sukses Hancur Lebur, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dan The Catcher in the Rye. Kiat Sukses Hancur Lebur saya “tinggalkan” begitu saja. 

Beberapa bulan setelah itu, seorang teman mengajak saya untuk menghadiri acara Bincang Buku bersama penulisnya di malam tahun baru, Kiat Sukses Hancur Lebur, Martin Suryajaya.
Pembuka novel ini adalah sebuah paragraf yang dibuat melantur, seperti orang mabuk ciu literan yang dioplos sesuka hati: