Langsung ke konten utama

Peluk

swandanirezaa.wordpress.com




Aku rebah dalam doamu

Tertidur lalu terbang ke pelukmu

Sesampainya disana kamu bertanya:

“Sekuat apa ikatan batin diantara kita,

sehingga kamu bisa sampai kepelukku?”

“Sekuat mulut mengucap kata rindu yang masih malu-malu.” jawabku



Kamu senang mendengar jawabku seraya bertanya kembali:

“Apalagi oleh-oleh kata dari mu

yang kamu janjikan akan diberi saat kita bertemu?”

Kujawab lagi: “Kamu adalah sayang yang berwujud kupu-kupu,

dekat namun susah ditangkap.”

Kali ini kamu terdiam

melihat senja yang mengubur diri dalam peraduan,

bruk bruk suaranya



“Aku telah lama menantimu singgah dipelukku.

Aku juga telah membuat kata untukmu.

Aku ingin menjadi pemain kata sepertimu.”  timpalmu

“Mana?” jawabku

“Aku adalah sayang  yang berwujud kaos kaki mu,

bagaimana, hangatkan?

Kalau masih kurang, sini datang ke hadapku,

kita rebah bersama dalam doa yang tak banyak meminta.

Dan aku bukan kupu-kupu,

aku asu ramah yang siap dipeluk, peluklah.” jawabmu



Akhirnya senja benar-benar terkubur di sebrang

Akhirnya kamu benar-benar nyata

Aku bahagia, kamu bahagia, kita





Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Kiat Sukses Hancur Lebur – Martin Suryajaya

Saya bertemu buku ini dalam sebuah acara pameran buku yang diselenggarakan di Gedung Wanita Semarang. Saat itu, Kiat Sukses Hancur Lebur terpampang jelas di rak buku sebuah stand yang berada tepat di depan pintu masuk gedung ini. Saya terkejut saat membaca judulnya, untuk menjadi hancur lebur pun ada kiat-kiatnya, itulah pikiran saya waktu itu. 

Lantas saya berjalan mengelilingi stand-stand buku yang ada, saya membeli dua buku terbitan baNana yang lain—penerbit yang sama dengan Kiat Sukses Hancur Lebur, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dan The Catcher in the Rye. Kiat Sukses Hancur Lebur saya “tinggalkan” begitu saja. 

Beberapa bulan setelah itu, seorang teman mengajak saya untuk menghadiri acara Bincang Buku bersama penulisnya di malam tahun baru, Kiat Sukses Hancur Lebur, Martin Suryajaya.
Pembuka novel ini adalah sebuah paragraf yang dibuat melantur, seperti orang mabuk ciu literan yang dioplos sesuka hati: