Langsung ke konten utama

Revisi Jomblo



Hai mblo jomblo, bagaimana kabarnya? Masih berani hidup? Kata banyak orang,hidup menyandang predikat sebagai jomblo itu hina, hina sekali. Bagaimana? Kuat?

Banyak orang? 

Siapa yang berani mengatakan demikian? Jomblo dan hina itu dua wujud yang sangat jauh berbeda, jauh sekali. Kalau ada orang yang mengatakan kalian hina gara-gara tidak punya pacar, sesungguhnhya yang benar-benar hina itu mereka, mereka yang berpacaran tetapi menghina yang jomblo.Dalam hal baik saja dilarang untuk menghina, apalagi dalam hal tidak baik.Bingung? Begini maksutnya, ketika kita mempunyai hal baik, contoh mobil baru, pamer dan menghina orang yang tidak mempunyai mobil saja tidak boleh. Ini dalam hal baik, mobil. Apalagi pacar, yang jelas dilarang Allah.

Pacar dan jomblo, dua pilihan yang sangat menentukan pergaulan jaman sekarang, kata banyak orang. Banyak orang lagi, kapan sedikitnya? 

Tidak bisa dipungkiri pula, kalau kalian punya pacar, kalian akan terlihat keren dimata teman-teman. Terlihat laku. Ketika ada acara kampus, lalu kalian datang sama pacar, dikenalin ke teman-teman, maka derajat kalian akan naik. Ssst tunggu, keren dimata teman apa artinya dibanding keren dimata Allah? 
 
Tapi kalau kalian jomblo, tidak akan disapa, dikucilkan dari pergaulan, dianggap manusia asing, dan jika ada acara kampus, kalian tidak akan diundang, karena jomblo.*haha abaikan paragraf yang ini*

Lagi-lagi menurut banyak orang, mereka berpikir tidak punya pacar itu karena kurang cantik atau ganteng, kurang pergaulan, penampilan kurang oke, duitnya sedikit, dan seterusnya, dan setelah seterusnya. Baaah, pemikiran seperti apa itu?Kenapa tidak berpikir; Allah itu sangat menyayangi kita, sehingga untuk pacaran kita dilarang-Nya. Allah sangat menyayangi kita yang jomblo, Dia tidak mau melihat kita berbuat dosa, atau mungkin Dia tidak berkenan kalau dosa kita berasal dari hal yang sudah jelas hukumnya.

Saran saya buat banyak orang itu; mulailah berpikir dari sudut pandang yang istimewa.

Tetapi, walaupun jomblo, saya tidak menutup diri untuk mendapatkan jodoh. Siapa sih yang mau menjomblo seumur hidup? Pasti ingin mempunyai pasangan, yaitu istri atau suami. Saya mengidamkan pasangan yang shalihah. Shalihah yang seperti apa? Saya rasa shalihah yang seperti orang lain pikirkan. Wanita yang enggan bersentuhan dengan lelaki yang bukan muhrim, atau sekadar enggan keluar rumah tanpa kain penutup kepala.

Saya juga tidak menolak jika diberi pasangan ynag cantik. Cantik yang seperti apa? Saya rasa cantik yang tanpa bedak menutup wajahnya, wanita yang tidak membutuhkan waktu lama berdandan. Dan tidak perlu keluar uang banyak untuk perawatan, serta tidak perlu melihat tutorial hijab apalah itu namanya untuk tahu cara berhijab modern. Tetapi Wanita yang bangga berhijab sesuai ajaran Islam.Danyang paham; cantik dalam kesederhanaan adalah cantik yang sesungguhnya. Seperti itulah, cantik menurut saya.

Tetapi tidak banyak orang berpikir seperti itu, mereka berpikir; yang penting cantik dan hangat dipeluk, yang penting tampan dan pantas diajak kondangan.

Saya juga akan menerima jika diberi pasangan yang baik. Baik yang seperti apa? Saya rasa baik yang seperti kata ‘baik’ itu sendiri. Istri yangtidak akan marah hanya karena saya lupa tidak mengembalikan sepatu ke raknya.

Saya akan sangat senang jika biberi pasangan yang cintanya akan bertambah ketika melihat kerutan diwajah saya, lalu berucap; kamu terlihat lebih muda dengan kerutan itu.

Satu lagi, ini yang terakhir. Saya berharap, Allah memberi pasangan yang ketika melihat ketampanan saya, dia berpikir; bagaimana ya tampanya Nabi Yusuf dulu, yang katanya orang paling tampan sedunia, jika suami saya sudah setampan ini?

Ceritanya diakhir tulisan, diakhiri dengan do’a; ya Allah, kabulkan harapan saya. Beri saya jodoh yang terbaik menurut Engkau. Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan-catatan Kecil

Holaaa...
Jadi gini, ini adalah buku kecil yang saya tulis khusus untuk Pak Hanggoro dan teman-teman Teknik Sipil Unnes. Pak Hanggoro itu siapa? Beliau adalah salah satu dosen di Teknik Sipil. Buku ini menceritakan perjalanan singkat kami dari semester 1 sampai akhirnya sidang TA (Tugas Akhir). Saya yakin buku ini tidak dapat mewakili semua kejadian yang ada, namun inilah persembahan saya untuk teman-teman seperjuangan, semoga berkenan dan menjadi pengingat di hari kelak. Dan kalian bisa mengunduhnya secara gratis.
Unduh di sini.
Penampakan bukunya...




Terimakasih teman-teman, selamat membaca...

Tidak Ada Cerita Tentang Wisuda

Kemarin saya wisuda, dan acaranya berlangsung sangat, biasa saja. Cenderung bikin ngantuk.
Tidak ada yang istimewa, kecuali kehadiran dan senyum wanita-wanita ini. Kau tahu? Beberapa orang saja dalam hidupmu, tidak banyak, mungkin tidak lebih dari 20 orang, sangat bisa membuat hidupmu bahagia dan berarti. Kualitas. Dan yang bisa berbuat yang demikian itu hanya manusia yang benar-benar manusia, bicara manis di depan juga manis di belakang. They did it.















Ya, tidak ada cerita tentang wisuda jika mereka tak hadir, menjabat tangan saya, memeluk, dan mendaratkan kasih sayang di pipi kanan dan kiri. 


(Cerpen) Racauan Pemuda Tanggung

Pertama, “Fakhri, nak, bangun.”
Kedua, “Fakhrii, bangun, nak.”
Ketiga, “Fakhriii, bangun. Banguuun!!!”
Ibu bilang aku terbangun pada ketujuh kalinya ibu membangunkan aku. Aku sedang bermimpi berada di surga, tempat terindah yang pernah ada bagi orang yang pantas. Di sana, istriku ada tujuh puluh tujuh orang, semuanya wanita, semuanya berambut panjang, semuanya cantik tak tertahankan. Aku kewalahan.
Belek di mata belum tuntas kubersihkan, suara Symphony 40 Mozart terdengar dari kamar sebelah, kamar adik perempuanku. Oh Mozart, kau ciptakan alunan maha indah seperti itu saat kau sedang bercinta dengan siapa? Dengan gaya apa kau melakukannya? Oh Mozart, beri tahu aku.
“Fakhriii...!!” Ibu kembali memanggil, dengan suara yang lebih keras. “Bangun, mandi!!”
Oh Mozart, aku baru bangun, ibu sudah menyuruhku mandi, aku sedang mendengarkanmu, tolong beri tahu ibu bahwa aku sedang mendengarkanmu. Perkara sepele seperti mandi tak pantas mengganggu kenikamatan alunan maha indah darimu. Oh Mozart,…