Langsung ke konten utama

Baikmu Mengundang Baik yang Lain



Hari ke-5 dalam #30HariMenulisSuratCinta
Untuk teman saya

Saat ulang tahun saya yang ke-20, kamu memberi surat pada saya. Isi surat itu bagus sekali, do’a, ucapan selamat dan nasihat-nasihat yang kadang tidak saya lakukan, semuanya ada, terima kasih. Dan hari ini, ijinkan saya membagi surat itu untuk semua orang yang mau membacanya. Agar kemanfaatan dari surat itu bertambah. Kamu tidak keberatan, kan? Baguslah kalau tidak.



Hari ini kamu dipastikan meninggalkan 19, dan mengawali pagi sebagai pemuda 20 tahun. Ya, bukan angka yang sedikit lagi, bukan pula usia yang kecil lagi. Tetapi inilah masa transisi, kamu sendiri yang akan menentukan akan seperti apa kamu, dan itu baik.


Namun lebih baik jika apa pun keputusan  yang akan kamu ambil, telah kamu bincangkan dengan Allah sebelumnya, terutama di sepertiga malammu, sungguh Dia lebih baik daripada Baik.



Di hari ini, ijinkan  saya memberikan doa harapan kecil, mungkin tak terlalu bermakna dan berarti, tapi ini sungguh do’a tulus: Semoga Allah senantiasa di samping kamu, saya, mereka, dan kita. Allah, kakak jeje adalah pemuda yang baik, karena Engkau menjadikannya baik. Allah, kakak jeje adalah kakak serta adik yang penyayang, karena Engkau menghendakinya lahir dari seorang ibu dan ayah yang penuh kasih sayang. Dia bercita-cita ingin menjadi anak yang bisa dibanggakan dihadapn Engkau. Allah, kabulkan semua do’a baik yang Engkau hendaki terkabul untuk kak jeje. Aamiin.

Kendal, 22 oktober 2013.




Sekali lagi, terima kasih karena kamu talah begitu tulus mendo’akan. Kamu tahu hukum timbal balik, kan? Iya, kamu baik, dan semoga baikmu itu mengundang baik yang lain untuk menghampirimu. Aamiin.

Komentar

  1. Temanmu siapa, nih? Suratnya bagus, dan judulnya aku suka banget! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Temen, ada lah. Kalau judul aku yang ngasih sendiri, tapi makasih udah mampir ke rumah keduaku.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Ada Cerita Tentang Wisuda

Kemarin saya wisuda, dan acaranya berlangsung sangat, biasa saja. Cenderung bikin ngantuk.
Tidak ada yang istimewa, kecuali kehadiran dan senyum wanita-wanita ini. Kau tahu? Beberapa orang saja dalam hidupmu, tidak banyak, mungkin tidak lebih dari 20 orang, sangat bisa membuat hidupmu bahagia dan berarti. Kualitas. Dan yang bisa berbuat yang demikian itu hanya manusia yang benar-benar manusia, bicara manis di depan juga manis di belakang. They did it.















Ya, tidak ada cerita tentang wisuda jika mereka tak hadir, menjabat tangan saya, memeluk, dan mendaratkan kasih sayang di pipi kanan dan kiri. 


(Cerpen) Racauan Pemuda Tanggung

Pertama, “Fakhri, nak, bangun.”
Kedua, “Fakhrii, bangun, nak.”
Ketiga, “Fakhriii, bangun. Banguuun!!!”
Ibu bilang aku terbangun pada ketujuh kalinya ibu membangunkan aku. Aku sedang bermimpi berada di surga, tempat terindah yang pernah ada bagi orang yang pantas. Di sana, istriku ada tujuh puluh tujuh orang, semuanya wanita, semuanya berambut panjang, semuanya cantik tak tertahankan. Aku kewalahan.
Belek di mata belum tuntas kubersihkan, suara Symphony 40 Mozart terdengar dari kamar sebelah, kamar adik perempuanku. Oh Mozart, kau ciptakan alunan maha indah seperti itu saat kau sedang bercinta dengan siapa? Dengan gaya apa kau melakukannya? Oh Mozart, beri tahu aku.
“Fakhriii...!!” Ibu kembali memanggil, dengan suara yang lebih keras. “Bangun, mandi!!”
Oh Mozart, aku baru bangun, ibu sudah menyuruhku mandi, aku sedang mendengarkanmu, tolong beri tahu ibu bahwa aku sedang mendengarkanmu. Perkara sepele seperti mandi tak pantas mengganggu kenikamatan alunan maha indah darimu. Oh Mozart,…

Review Buku Kiat Sukses Hancur Lebur – Martin Suryajaya

Saya bertemu buku ini dalam sebuah acara pameran buku yang diselenggarakan di Gedung Wanita Semarang. Saat itu, Kiat Sukses Hancur Lebur terpampang jelas di rak buku sebuah stand yang berada tepat di depan pintu masuk gedung ini. Saya terkejut saat membaca judulnya, untuk menjadi hancur lebur pun ada kiat-kiatnya, itulah pikiran saya waktu itu. 

Lantas saya berjalan mengelilingi stand-stand buku yang ada, saya membeli dua buku terbitan baNana yang lain—penerbit yang sama dengan Kiat Sukses Hancur Lebur, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dan The Catcher in the Rye. Kiat Sukses Hancur Lebur saya “tinggalkan” begitu saja. 

Beberapa bulan setelah itu, seorang teman mengajak saya untuk menghadiri acara Bincang Buku bersama penulisnya di malam tahun baru, Kiat Sukses Hancur Lebur, Martin Suryajaya.
Pembuka novel ini adalah sebuah paragraf yang dibuat melantur, seperti orang mabuk ciu literan yang dioplos sesuka hati: