Langsung ke konten utama

Bingung Memberi Judul


Hari ke-11 dalam #30MenulisSuratCinta
Untuk mbak yang tadi saya foto diam diam

Hari ini, tema surat cinta dari @PosCinta  aneh banget, semua peserta disuruh mengirim surat untuk orang asing di foto yang diambil sendiri oleh penulis. Ada kerja ganda buat para peserta, pertama mencari orang asing untuk di foto, kedua membuat surat cinta untuk orang asing itu.

Dan tadi aku pura pura mau membeli makan, padahal aku sedang mengambil fotomu, mbak. Ma’af sekali. Aku bingung mau memoto siapa, nah, kebetulan pas aku bingung, kamu lewat. Yaudah, aku ambil saja gambamu. Tapi tenang, nomor motormu sudah kuhapus, jadi tidak ada informasi lain selain wajahmu saja. Keren kan aku? Tepuk tangan, dong haha.

Kamu berkerudung, berarti kamu sayang sama Tuhanmu. Saranku sih, pakai terus kerudung indahmu itu, biar Tuhan juga sayang sama kamu.

Ma'af sekali



Sudah, ya? Aku bingung mau nulis apa lagi, terima kasih sudah bersedia di foto diam diam dan mengijinkanku memposting foto itu di blog. Piis, ya mbak.

Komentar

  1. Hahahaahah!, mbakeee,, difoto nih mbakee...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaak dikomen kakak Gembrit, lompat lompat lompat lompat.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Ada Cerita Tentang Wisuda

Kemarin saya wisuda, dan acaranya berlangsung sangat, biasa saja. Cenderung bikin ngantuk.
Tidak ada yang istimewa, kecuali kehadiran dan senyum wanita-wanita ini. Kau tahu? Beberapa orang saja dalam hidupmu, tidak banyak, mungkin tidak lebih dari 20 orang, sangat bisa membuat hidupmu bahagia dan berarti. Kualitas. Dan yang bisa berbuat yang demikian itu hanya manusia yang benar-benar manusia, bicara manis di depan juga manis di belakang. They did it.















Ya, tidak ada cerita tentang wisuda jika mereka tak hadir, menjabat tangan saya, memeluk, dan mendaratkan kasih sayang di pipi kanan dan kiri. 


(Cerpen) Racauan Pemuda Tanggung

Pertama, “Fakhri, nak, bangun.”
Kedua, “Fakhrii, bangun, nak.”
Ketiga, “Fakhriii, bangun. Banguuun!!!”
Ibu bilang aku terbangun pada ketujuh kalinya ibu membangunkan aku. Aku sedang bermimpi berada di surga, tempat terindah yang pernah ada bagi orang yang pantas. Di sana, istriku ada tujuh puluh tujuh orang, semuanya wanita, semuanya berambut panjang, semuanya cantik tak tertahankan. Aku kewalahan.
Belek di mata belum tuntas kubersihkan, suara Symphony 40 Mozart terdengar dari kamar sebelah, kamar adik perempuanku. Oh Mozart, kau ciptakan alunan maha indah seperti itu saat kau sedang bercinta dengan siapa? Dengan gaya apa kau melakukannya? Oh Mozart, beri tahu aku.
“Fakhriii...!!” Ibu kembali memanggil, dengan suara yang lebih keras. “Bangun, mandi!!”
Oh Mozart, aku baru bangun, ibu sudah menyuruhku mandi, aku sedang mendengarkanmu, tolong beri tahu ibu bahwa aku sedang mendengarkanmu. Perkara sepele seperti mandi tak pantas mengganggu kenikamatan alunan maha indah darimu. Oh Mozart,…

Review Buku Kiat Sukses Hancur Lebur – Martin Suryajaya

Saya bertemu buku ini dalam sebuah acara pameran buku yang diselenggarakan di Gedung Wanita Semarang. Saat itu, Kiat Sukses Hancur Lebur terpampang jelas di rak buku sebuah stand yang berada tepat di depan pintu masuk gedung ini. Saya terkejut saat membaca judulnya, untuk menjadi hancur lebur pun ada kiat-kiatnya, itulah pikiran saya waktu itu. 

Lantas saya berjalan mengelilingi stand-stand buku yang ada, saya membeli dua buku terbitan baNana yang lain—penerbit yang sama dengan Kiat Sukses Hancur Lebur, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dan The Catcher in the Rye. Kiat Sukses Hancur Lebur saya “tinggalkan” begitu saja. 

Beberapa bulan setelah itu, seorang teman mengajak saya untuk menghadiri acara Bincang Buku bersama penulisnya di malam tahun baru, Kiat Sukses Hancur Lebur, Martin Suryajaya.
Pembuka novel ini adalah sebuah paragraf yang dibuat melantur, seperti orang mabuk ciu literan yang dioplos sesuka hati: