Langsung ke konten utama

Kenapa



Hari ke-6 dalam #30HariMenulisSuratCinta
Untuk S

Aku benci saat kamu bertanya, bagaimana jika kamu mencoba memikirkannya daripada bertanya padaku. Aku ingin kamu memikirkannya, lalu beri tahu aku. Aku ingin kamu yang menjelasakan dan aku mendengarkan, bukan aku yang menjelasakan tapi kamu mengabaikan. Aku ingin kamu yang memberi tahu dan aku mencoba mengerti, bukan aku yang memberi tahumu tapi kamu tidak menanggapinya. Aku hidup, aku hidup dan mampu merasakan sakit, perih, bahagia, tawa, dan bahkan hambar. Camkan itu!

Aku tahu ini salah, mungkin lebih salah dari yang aku kira. Lalu kenapa kamu tidak mengatakannya? Kenapa kamu lebih suka menuntut daripada menceritakannya padaku? Kenapa kamu lebih suka meminta pengertian daripada mencarinya? Kenapa kamu lebih suka aku yang bukan aku daripada aku yang apa adanya aku?

Aku tahu ini salah, lalau kenapa kita bertahan? Aku tahu kamu benci aku dalam rasa sukamu, sama seperti aku yang terlalu suka kamu dalam rasa benciku.

Keberitahu, jika kamu tidak mengatakannya, maka kamu harus siap menerima resiko terabaikan. Karena aku bukan pribadi yang perduli terhadap sesuatu yang menurutmu harus kupedulikan.

Kamu tahu, kan? Kamu pun pernah mengatakannya, aku akan tega menyakiti jika aku disakiti terlabih dahulu. Sayangnya, kamu adalah orang yang dekat denganku.

Kenapa kamu menggantungkan rasamu pada orang yang salah?  Kenapa kamu memberikan rasamu pada orang yang tak seharusnya? Pikirkan “kenapa” jangan tanyakan “kenapa”. Aku butuh pribadi yang perduli dengan masa lalu dan kehidupanku, tetapin tidak mempermasalahkannya sama sekali.


Jika ini salah, tolong akhiri saja. Tapi ingat, aku suka kamu dari sisi yang mungkin tidak bisa disukai orang lain. Kamu yang menunjukkan siapa kamu. Kamu yang akan bilang apa yang kamu rasa, bukan yang kamu mau. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Ada Cerita Tentang Wisuda

Kemarin saya wisuda, dan acaranya berlangsung sangat, biasa saja. Cenderung bikin ngantuk.
Tidak ada yang istimewa, kecuali kehadiran dan senyum wanita-wanita ini. Kau tahu? Beberapa orang saja dalam hidupmu, tidak banyak, mungkin tidak lebih dari 20 orang, sangat bisa membuat hidupmu bahagia dan berarti. Kualitas. Dan yang bisa berbuat yang demikian itu hanya manusia yang benar-benar manusia, bicara manis di depan juga manis di belakang. They did it.















Ya, tidak ada cerita tentang wisuda jika mereka tak hadir, menjabat tangan saya, memeluk, dan mendaratkan kasih sayang di pipi kanan dan kiri. 


(Cerpen) Racauan Pemuda Tanggung

Pertama, “Fakhri, nak, bangun.”
Kedua, “Fakhrii, bangun, nak.”
Ketiga, “Fakhriii, bangun. Banguuun!!!”
Ibu bilang aku terbangun pada ketujuh kalinya ibu membangunkan aku. Aku sedang bermimpi berada di surga, tempat terindah yang pernah ada bagi orang yang pantas. Di sana, istriku ada tujuh puluh tujuh orang, semuanya wanita, semuanya berambut panjang, semuanya cantik tak tertahankan. Aku kewalahan.
Belek di mata belum tuntas kubersihkan, suara Symphony 40 Mozart terdengar dari kamar sebelah, kamar adik perempuanku. Oh Mozart, kau ciptakan alunan maha indah seperti itu saat kau sedang bercinta dengan siapa? Dengan gaya apa kau melakukannya? Oh Mozart, beri tahu aku.
“Fakhriii...!!” Ibu kembali memanggil, dengan suara yang lebih keras. “Bangun, mandi!!”
Oh Mozart, aku baru bangun, ibu sudah menyuruhku mandi, aku sedang mendengarkanmu, tolong beri tahu ibu bahwa aku sedang mendengarkanmu. Perkara sepele seperti mandi tak pantas mengganggu kenikamatan alunan maha indah darimu. Oh Mozart,…

Review Buku Kiat Sukses Hancur Lebur – Martin Suryajaya

Saya bertemu buku ini dalam sebuah acara pameran buku yang diselenggarakan di Gedung Wanita Semarang. Saat itu, Kiat Sukses Hancur Lebur terpampang jelas di rak buku sebuah stand yang berada tepat di depan pintu masuk gedung ini. Saya terkejut saat membaca judulnya, untuk menjadi hancur lebur pun ada kiat-kiatnya, itulah pikiran saya waktu itu. 

Lantas saya berjalan mengelilingi stand-stand buku yang ada, saya membeli dua buku terbitan baNana yang lain—penerbit yang sama dengan Kiat Sukses Hancur Lebur, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dan The Catcher in the Rye. Kiat Sukses Hancur Lebur saya “tinggalkan” begitu saja. 

Beberapa bulan setelah itu, seorang teman mengajak saya untuk menghadiri acara Bincang Buku bersama penulisnya di malam tahun baru, Kiat Sukses Hancur Lebur, Martin Suryajaya.
Pembuka novel ini adalah sebuah paragraf yang dibuat melantur, seperti orang mabuk ciu literan yang dioplos sesuka hati: