Langsung ke konten utama

Surat untuk Istriku Nanti


Hari ke-24 dalam #30HariMenulisSuratCinta

Aku tidak akan menolak jika diberi pasangan ynag cantik. Cantik yang seperti apa? Aku rasa cantik yang tanpa bedak menutup wajahnya, wanita yang tidak membutuhkan waktu lama berdandan. Dan tidak perlu keluar uang banyak untuk perawatan, serta tidak perlu melihat tutorial hijab apalah itu namanya untuk tahu cara berhijab modern. Tetapi Wanita yang bangga berhijab sesuai ajaran agama. Dan yang paham; cantik dalam kesederhanaan adalah cantik yang sesungguhnya. Seperti itulah, cantik menurutku.

Sudah sejauh mana perjalananmu untuk sampai di aku? Sudah setengah perjalanan kah? Atau masih jauh dari kata dekat? Jika masih jauh, jangan terburu-buru untuk cepat sampai. Karena segala sesuatu yang tergesa-gesa itu tidak baik, pun dengan hasilnya, pasti tidak maksimal. Jadi, santailah, nikmati perjalanan singkat itu sebelum menempuh perjalanan panjang bersamaku nanti.

Disela waktu sibukku, yaitu waktu kosong, sering sekali kubayangkan seperti apa indahmu kelak. Seperti apa kerudungmu terlihat, atau bagaimana jari-jemarimu bereaksi ketika kugenggam. Bahkan sempat kubayangkan, akan memejam atau tidak matamu ketika aku mencium keningmu dengan nafasku yang tidak segar setelah pulang kerja.

Untuk istriku, nanti.. .

Kamu pasti tahu aku pecinta kopi, tapi lambungku tidak menyukainya. Sebagai ganti, teh sangat nikmat untuk dinikmati─pagi atau sore hari. Dan kamu pasti juga tahu, aku sangat menyukai senja. Seperti kata penyair idolaku, Joko Pinurbo: “Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja: ingin sampai rumah saat senja, supaya saya dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela.” Indah sekali, bukan? Dan saat itu tiba, aku tidak lagi berdua dengan senja, tapi bertiga dengan kamu, berempat dengan buku, dan berlima dengan anak-anak kita.

Jagalah hatimu dengan baik, karena aku pun begitu.

Dari yang sudah semakin penasaran terhadapmu, suamimu kelak.

Komentar

  1. Sepuluh hari sebelum tanggal kakak menulis surat ini, aku juga menulis surat serupa, loh, kak. Ngerasa amazing aja bisa nemuin surat semacam ini di blog lain. :D

    Anyway, salam kenal dari sesama pengikut #30HariMenulisSuratCinta. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang bener? Kalau kamu ngerasa amazing, berarti aku double amazing, nih. :D
      Siap meluncur ke blogmu.

      Badeway, salam kenal juga :)

      Hapus
  2. "Jagalah hatimu dengan baik, karena akupun begitu!!!!"


    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Ada Cerita Tentang Wisuda

Kemarin saya wisuda, dan acaranya berlangsung sangat, biasa saja. Cenderung bikin ngantuk.
Tidak ada yang istimewa, kecuali kehadiran dan senyum wanita-wanita ini. Kau tahu? Beberapa orang saja dalam hidupmu, tidak banyak, mungkin tidak lebih dari 20 orang, sangat bisa membuat hidupmu bahagia dan berarti. Kualitas. Dan yang bisa berbuat yang demikian itu hanya manusia yang benar-benar manusia, bicara manis di depan juga manis di belakang. They did it.















Ya, tidak ada cerita tentang wisuda jika mereka tak hadir, menjabat tangan saya, memeluk, dan mendaratkan kasih sayang di pipi kanan dan kiri. 


(Cerpen) Racauan Pemuda Tanggung

Pertama, “Fakhri, nak, bangun.”
Kedua, “Fakhrii, bangun, nak.”
Ketiga, “Fakhriii, bangun. Banguuun!!!”
Ibu bilang aku terbangun pada ketujuh kalinya ibu membangunkan aku. Aku sedang bermimpi berada di surga, tempat terindah yang pernah ada bagi orang yang pantas. Di sana, istriku ada tujuh puluh tujuh orang, semuanya wanita, semuanya berambut panjang, semuanya cantik tak tertahankan. Aku kewalahan.
Belek di mata belum tuntas kubersihkan, suara Symphony 40 Mozart terdengar dari kamar sebelah, kamar adik perempuanku. Oh Mozart, kau ciptakan alunan maha indah seperti itu saat kau sedang bercinta dengan siapa? Dengan gaya apa kau melakukannya? Oh Mozart, beri tahu aku.
“Fakhriii...!!” Ibu kembali memanggil, dengan suara yang lebih keras. “Bangun, mandi!!”
Oh Mozart, aku baru bangun, ibu sudah menyuruhku mandi, aku sedang mendengarkanmu, tolong beri tahu ibu bahwa aku sedang mendengarkanmu. Perkara sepele seperti mandi tak pantas mengganggu kenikamatan alunan maha indah darimu. Oh Mozart,…

Review Buku Kiat Sukses Hancur Lebur – Martin Suryajaya

Saya bertemu buku ini dalam sebuah acara pameran buku yang diselenggarakan di Gedung Wanita Semarang. Saat itu, Kiat Sukses Hancur Lebur terpampang jelas di rak buku sebuah stand yang berada tepat di depan pintu masuk gedung ini. Saya terkejut saat membaca judulnya, untuk menjadi hancur lebur pun ada kiat-kiatnya, itulah pikiran saya waktu itu. 

Lantas saya berjalan mengelilingi stand-stand buku yang ada, saya membeli dua buku terbitan baNana yang lain—penerbit yang sama dengan Kiat Sukses Hancur Lebur, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dan The Catcher in the Rye. Kiat Sukses Hancur Lebur saya “tinggalkan” begitu saja. 

Beberapa bulan setelah itu, seorang teman mengajak saya untuk menghadiri acara Bincang Buku bersama penulisnya di malam tahun baru, Kiat Sukses Hancur Lebur, Martin Suryajaya.
Pembuka novel ini adalah sebuah paragraf yang dibuat melantur, seperti orang mabuk ciu literan yang dioplos sesuka hati: