Langsung ke konten utama

Terima Kasih Bakteri Petrichor


Hari ke-2 dalam #30HariMenulisSuratCinta
Untuk bakteri petrichor.

Aku sangat menyukaimu, aroma setelah hujan. Aku bisa mencumbumu dengan sangat frontal. Tapi aku yakin, tidak hanya aku saja yang menyukaimu, banyak sekali. Hampir semua teman yang kehujanan bersamaku, mereka selalu bilang: “Aku menyukai aroma setelah hujan.” Ya, kamu misterius yang sangat baik, keberadaanmu tidak banyak yang tahu, namun kamu menyenangkan.

Terima kasih bakteri petrichor, karena kamu aku bisa menghirup udara dalam-dalam sembari memejamkan mata dan melebarkan bibir. Aku bisa sejenak melupakan urusan dunia yang belit, melupakan manusia yang teramat palsu.

Terima kasih bakteri petrichor, karena kamu aku bisa mengingat semua detail yang kulakukan dulu semasa kecil. Kamu seperti kabel penghubung yang memiliki efektifitas 90%, sehingga hampir semua memori itu teringat. Karenamu, aku bisa duduk diberanda sampai petang dengan segelas kopi yang menemani. Lalu pikiranku kembali ke masa dulu, masa dimana aku tidak malu berlari-larian keluar masuk rumah tanpa celana.

Saat aku menulis surat ini pun, hari sedang hujan, deras sekali. Dan aku tahu, sebentar lagi aromamu akan kuhirupi, semoga kamu berkenan. Teria kasih, ya, petrichor. Tetap seperti ini, jangan berubah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Kiat Sukses Hancur Lebur – Martin Suryajaya

Saya bertemu buku ini dalam sebuah acara pameran buku yang diselenggarakan di Gedung Wanita Semarang. Saat itu, Kiat Sukses Hancur Lebur terpampang jelas di rak buku sebuah stand yang berada tepat di depan pintu masuk gedung ini. Saya terkejut saat membaca judulnya, untuk menjadi hancur lebur pun ada kiat-kiatnya, itulah pikiran saya waktu itu. 

Lantas saya berjalan mengelilingi stand-stand buku yang ada, saya membeli dua buku terbitan baNana yang lain—penerbit yang sama dengan Kiat Sukses Hancur Lebur, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dan The Catcher in the Rye. Kiat Sukses Hancur Lebur saya “tinggalkan” begitu saja. 

Beberapa bulan setelah itu, seorang teman mengajak saya untuk menghadiri acara Bincang Buku bersama penulisnya di malam tahun baru, Kiat Sukses Hancur Lebur, Martin Suryajaya.
Pembuka novel ini adalah sebuah paragraf yang dibuat melantur, seperti orang mabuk ciu literan yang dioplos sesuka hati: