Langsung ke konten utama

Actualy, I Miss You


Hari ke-29 dalam #30HariMenulisSuratCinta

23 Mei, harusnya menjadi hari dimana setiap tahunnya kucium punggung tanganmu, lalau kau akan mencium keningku seraya mengusap rambut berantakanku. Karena hari itu adalah hari ulang tahunmu.

23 Mei, harusnya menjadi hari dimana do’a-do’a baik untukmu kupanjatkan pada Sang Illahi. Karena hari itu adalah hari ulang tahunmu.

23 Mei, harusnya menjadi hari dimana Ibu, aku, dan kedua saudaraku berkumpul dan membuat perayaan kecil, kecil saja, untuk bersyukur, sampai saat itu kita masih diberi kebersamaan. Karena hari itu adalah hari ulang tahunmu.

Tapi sekarang, kita tidak perlu menunggu tanggal itu datang, tidak perlu setahun sekali mendoakanmu. Karena setiap saat, do’a-do’a baik untukmu, kami titipkan pada sepasang malaikat dirumah untuk dibawa pada Tuhannya, Allah. Seperti saat ini, aku mendoakanmu lewat surat pendek.

Jagoan kecilmu yang dulu sering pup dicelana ini sekarang sudah besar, sudah setinggi kamu dulu. Mungkin sekarang aku yang akan menang jika kau mengajak berantem-beranteman, tidak seperti dulu, aku selalu kalah. Masih berani? Haha.

Aku sedang membayangkan bagaimana reaksimu saat membaca surat ini, pasti senyum tersungging dari bibir kecoklatanmu, pasti kamu membacanya sambil berdiri di depan jendela seperti dulu yang sering kamu lakukan. Lalu melipat surat ini untuk disimpan di bawah bantal tidur surgamu, dan akan kamu baca lagi esok.

Inti dari surat ini, kami ingin menyampaikan: tidak ada air mata sedih untukmu.

Komentar

  1. subhanallah...diam-diam saudaraku ini lihai skali merangkai kata2 :)
    tulis sebanyak-bnyaknya dek..diarsipkan jg, aku siap ni jadi pmbaca hehe jadi nyesel knpa baru tau skrang klo ente pnya bakat

    BalasHapus
  2. Ketika orang yang kau cintai meninggalkanmu, kau tidak seketika kehilangan mereka. Kau akan kehilangan potongan demi potongan seiring waktu. Seperti surat2 yang berhenti datang. Dan sekarang, aku tak mampu lagi mengingat bau tubuhnya. Maka, jika bicara rindu... entahlah aku merindukan apa dari bagian tubuhnya! Namun, rindu itu tidak selalu berkaitan dengan tubuh!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan-catatan Kecil

Holaaa...
Jadi gini, ini adalah buku kecil yang saya tulis khusus untuk Pak Hanggoro dan teman-teman Teknik Sipil Unnes. Pak Hanggoro itu siapa? Beliau adalah salah satu dosen di Teknik Sipil. Buku ini menceritakan perjalanan singkat kami dari semester 1 sampai akhirnya sidang TA (Tugas Akhir). Saya yakin buku ini tidak dapat mewakili semua kejadian yang ada, namun inilah persembahan saya untuk teman-teman seperjuangan, semoga berkenan dan menjadi pengingat di hari kelak. Dan kalian bisa mengunduhnya secara gratis.
Unduh di sini.
Penampakan bukunya...




Terimakasih teman-teman, selamat membaca...

Tidak Ada Cerita Tentang Wisuda

Kemarin saya wisuda, dan acaranya berlangsung sangat, biasa saja. Cenderung bikin ngantuk.
Tidak ada yang istimewa, kecuali kehadiran dan senyum wanita-wanita ini. Kau tahu? Beberapa orang saja dalam hidupmu, tidak banyak, mungkin tidak lebih dari 20 orang, sangat bisa membuat hidupmu bahagia dan berarti. Kualitas. Dan yang bisa berbuat yang demikian itu hanya manusia yang benar-benar manusia, bicara manis di depan juga manis di belakang. They did it.















Ya, tidak ada cerita tentang wisuda jika mereka tak hadir, menjabat tangan saya, memeluk, dan mendaratkan kasih sayang di pipi kanan dan kiri. 


(Cerpen) Racauan Pemuda Tanggung

Pertama, “Fakhri, nak, bangun.”
Kedua, “Fakhrii, bangun, nak.”
Ketiga, “Fakhriii, bangun. Banguuun!!!”
Ibu bilang aku terbangun pada ketujuh kalinya ibu membangunkan aku. Aku sedang bermimpi berada di surga, tempat terindah yang pernah ada bagi orang yang pantas. Di sana, istriku ada tujuh puluh tujuh orang, semuanya wanita, semuanya berambut panjang, semuanya cantik tak tertahankan. Aku kewalahan.
Belek di mata belum tuntas kubersihkan, suara Symphony 40 Mozart terdengar dari kamar sebelah, kamar adik perempuanku. Oh Mozart, kau ciptakan alunan maha indah seperti itu saat kau sedang bercinta dengan siapa? Dengan gaya apa kau melakukannya? Oh Mozart, beri tahu aku.
“Fakhriii...!!” Ibu kembali memanggil, dengan suara yang lebih keras. “Bangun, mandi!!”
Oh Mozart, aku baru bangun, ibu sudah menyuruhku mandi, aku sedang mendengarkanmu, tolong beri tahu ibu bahwa aku sedang mendengarkanmu. Perkara sepele seperti mandi tak pantas mengganggu kenikamatan alunan maha indah darimu. Oh Mozart,…