Langsung ke konten utama

Mereka Adalah Kerikil-kerikil

Ada perempuan cantik,
aku pernah terpukau oleh tiga tahi lalat di dekat payudaranya

Ada perempuan berkacamata,
yang selalu tersenyum,
di tiap ia membuka pintu kamarnya

Ada perempuan yang rambutnya panjang sebahu,
untukku ia pernah menanggalkan pakaiannya

Ada perempuan yang 8 tahun lebih muda dariku,
ia pernah menuntun tanganku untuk membuka celananya

Ada perempuan kaya,
kepadaku ia meminta-minta,
supaya kuterima hidup dan hatinya

Ada perempuan yang pandai,
untuk meminta pelukku,
ia pernah berlutut menjatuhkan dirinya

Dan ada perempuan-perempuan lain,
yang aku lelah menggambarkannya

Mereka,
tak lebih dari kerikil-kerikil di dalam perjalananku,
menemukanmu

Aku sudah selesai,
dan,
kini aku berhenti di engkau

Puisi Zarry Hendrik.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Kiat Sukses Hancur Lebur – Martin Suryajaya

Saya bertemu buku ini dalam sebuah acara pameran buku yang diselenggarakan di Gedung Wanita Semarang. Saat itu, Kiat Sukses Hancur Lebur terpampang jelas di rak buku sebuah stand yang berada tepat di depan pintu masuk gedung ini. Saya terkejut saat membaca judulnya, untuk menjadi hancur lebur pun ada kiat-kiatnya, itulah pikiran saya waktu itu. 

Lantas saya berjalan mengelilingi stand-stand buku yang ada, saya membeli dua buku terbitan baNana yang lain—penerbit yang sama dengan Kiat Sukses Hancur Lebur, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dan The Catcher in the Rye. Kiat Sukses Hancur Lebur saya “tinggalkan” begitu saja. 

Beberapa bulan setelah itu, seorang teman mengajak saya untuk menghadiri acara Bincang Buku bersama penulisnya di malam tahun baru, Kiat Sukses Hancur Lebur, Martin Suryajaya.
Pembuka novel ini adalah sebuah paragraf yang dibuat melantur, seperti orang mabuk ciu literan yang dioplos sesuka hati: