Langsung ke konten utama

saat foto diri bertebaran dengan murah, generasi kalian akan sulit untuk merindu


Sekarang ini, banyak sekali media sosial yang tersedia. Mulai dari twitter, line, instagram, path, dan banyak lagi. Semua itu memudahkan kita untuk bertukar sapa kepada teman yang jauh, tepatnya teman yang tidak memungkinkan untuk berbicara langsung.




Dulu, lima belas tahun kebelakang, orang mau pamer sedang berada dimana saja tidak bisa. Tidak seperti sekarang, tinggal buka twitter lalu ngetwit, “Lagi di sini nih, asik,” gampang. Apalagi mengunggah foto di internet, susah. Harus foto pakai kamera kodak lah, harus ini, harus itu. Dan dulu, kamera di handphone belum ada yang secanggih sekarang.


Lalu tibalah kita di jaman yang serba internet ini, jaman dimana kita akan dibilang kurang gaul kalau nggak mengikuti perkembangan. Ya, jaman digital. Mau tidak mau, kita harus mengikutinya. Jaman dimana handphone sudah dilengkapi dengan berbagai macam fitur, komplit.

Tapi, ada saja orang yang tidak bisa mengendalikan dirinya di jaman digital ini. Semua kegiatan di umbar di medsos, semua foto di unggah dengan murah. Semua orang bisa dengan mudah mengetahui kegiatannya. Lalu apa yang terjadi? Sudah dijawab sama @montytiwa.

Kurang lebih twitnya begini: “Saat foto diri bertebaran dengan murah, generasi kalian akan sulit untuk merindu.” Ya, seperti judul postingan ini.

Setelah membaca kalimat itu, serasa ada tonjokan keras di dada, betapa kita tidak menyadarinya. Kita sudah menjadi generasi yang sulit merindu? Benarkah? Coba tengok kembali isi-isi up date-tan di masing-masing akun, sudah berapa kali kita posting foto, sudah berapa kali ngomongin sedang dimana sama siapa? Lalu ingat-ingat lagi, masih ada nggak teman yang nanya sedang apa? Kalau kita sudah mengumbar semua kegiatan di medsos. Masih ada nggak teman yang bilang aku kangen? Kalau semua foto sudah diunggah juga.

Sekarang, mungkin saatnya untuk menggunakan medsos yang ada dengan lebih bijaksana. Mengunggah foto seperlunya, bikin status yang tidak melulu ngomongin diri sendiri. Memanfaatkannya dengan baik, sebaik tujuan dari orang yang membuat medsos itu. Seperti Mark Zuckerberg, menciptakan facebook agar digunakan untuk bertukar sapa, bukan galau-galauan dan pamer foto. Bukan berdo’a agar malam minggu hujan.

Karena kita manusia dan bisa berpikir, ayok berpikir ulang utnuk tidak pamer banyak foto dan status di medsos. Biar kita tetap dirindu oleh orang-orang terkasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan-catatan Kecil

Holaaa...
Jadi gini, ini adalah buku kecil yang saya tulis khusus untuk Pak Hanggoro dan teman-teman Teknik Sipil Unnes. Pak Hanggoro itu siapa? Beliau adalah salah satu dosen di Teknik Sipil. Buku ini menceritakan perjalanan singkat kami dari semester 1 sampai akhirnya sidang TA (Tugas Akhir). Saya yakin buku ini tidak dapat mewakili semua kejadian yang ada, namun inilah persembahan saya untuk teman-teman seperjuangan, semoga berkenan dan menjadi pengingat di hari kelak. Dan kalian bisa mengunduhnya secara gratis.
Unduh di sini.
Penampakan bukunya...




Terimakasih teman-teman, selamat membaca...

Tidak Ada Cerita Tentang Wisuda

Kemarin saya wisuda, dan acaranya berlangsung sangat, biasa saja. Cenderung bikin ngantuk.
Tidak ada yang istimewa, kecuali kehadiran dan senyum wanita-wanita ini. Kau tahu? Beberapa orang saja dalam hidupmu, tidak banyak, mungkin tidak lebih dari 20 orang, sangat bisa membuat hidupmu bahagia dan berarti. Kualitas. Dan yang bisa berbuat yang demikian itu hanya manusia yang benar-benar manusia, bicara manis di depan juga manis di belakang. They did it.















Ya, tidak ada cerita tentang wisuda jika mereka tak hadir, menjabat tangan saya, memeluk, dan mendaratkan kasih sayang di pipi kanan dan kiri. 


(Cerpen) Racauan Pemuda Tanggung

Pertama, “Fakhri, nak, bangun.”
Kedua, “Fakhrii, bangun, nak.”
Ketiga, “Fakhriii, bangun. Banguuun!!!”
Ibu bilang aku terbangun pada ketujuh kalinya ibu membangunkan aku. Aku sedang bermimpi berada di surga, tempat terindah yang pernah ada bagi orang yang pantas. Di sana, istriku ada tujuh puluh tujuh orang, semuanya wanita, semuanya berambut panjang, semuanya cantik tak tertahankan. Aku kewalahan.
Belek di mata belum tuntas kubersihkan, suara Symphony 40 Mozart terdengar dari kamar sebelah, kamar adik perempuanku. Oh Mozart, kau ciptakan alunan maha indah seperti itu saat kau sedang bercinta dengan siapa? Dengan gaya apa kau melakukannya? Oh Mozart, beri tahu aku.
“Fakhriii...!!” Ibu kembali memanggil, dengan suara yang lebih keras. “Bangun, mandi!!”
Oh Mozart, aku baru bangun, ibu sudah menyuruhku mandi, aku sedang mendengarkanmu, tolong beri tahu ibu bahwa aku sedang mendengarkanmu. Perkara sepele seperti mandi tak pantas mengganggu kenikamatan alunan maha indah darimu. Oh Mozart,…