Langsung ke konten utama

Setelah Kau Tak di Rumah


Bila malam datang, ia akan bersungut-sungut membersihkan tempat tidur, agar nyaman tidurnya. Lalu menyeduh susu dan meletakkannya di meja sebelah. Setelah kau tak dirumah, hal itu selalu ia lakukan.

Ia selalu melakukan apa pun yang kau minta. “Tempat tidur yang bersih dan nyaman, adalah bekal hubungan suami-istri harmonis,” katamu suatu ketika.

Sebagai istri yang baik, ia tak ingin mengecewakan suaminya, ia tetap bersikap normal, layaknya istri-istri pada umumnya. Maka, saat kau tak di rumah, ia masih mengajar di sekolah seperti biasa, senin sampai sabtu. Berangkat pagi, pulang sore. Sedangkan  hari minggunya, ia bersama bibi, pergi ke pasar, membeli kebutuhan yang sudah habis, dan membeli sayur untuk dimasak hari itu juga.

Minggu sore, sering ia habiskan membaca buku di beranda rumah sembari menunggumu, duduk di kursi goyang yang dulu ia beli bersamamu. Setelah sore benar-benar pergi, baru ia akan masuk, untuk menyiapkan tempat tidur kembali. Entah untuk dirinya saja, untuk dirinya dan dirimu, atau untuk dirinya dan orang lain. Kau tak tahu, bukan?

Sebenarnya, mudah bagi istrimu untuk bersuami lagi, banyak sekali lelaki yang telah melamarnya. Mulai dari kepala sekolah yang istrinya sudah meninggal. Peternak sapi, tetanggamu, yang sudah mempunyai istri tiga dan memang gemar beristri. Dan yang terakhir, ia dilamar oleh pemuda gagah rupawan, usianya dua puluh lima tahun, lima tahun lebih muda dari istrimu. Tetapi mereka ditolak, sederhana saja alasan istrimu, setia adalah pekerjaan yang baik. Ya, setia adalah pekerjaan yang baik, begitu kata penyair dari Makasar yang digemari istrimu.

Ia ingin melakukan pekerjaan baik ini dengan baik, sebaik-baiknya. Hingga harinya tiba, saat kau kembali, ia resmi menyandang gelar sebagai istri yang baik. Maka, ia tetap sendiri dan menunggumu.

Sekarang, ‘pulang’, menjadi kata yang selalu ada di pikirannya. Kepulanganmu. Dalam hatinya juga sering bertanya, apa yang salah dengan diriku, mana bisa aku mengalahkan beban berat seperti ini? Ah, manusia memang sering memutuskan sendiri tentang berat-ringannya cobaan yang Tuhan beri, tanpa berpikir lebih jauh untuk melihat dirinya akan lebih kuat setelah cobaan itu terlewati.

Suatu ketika, mertuamu bertandang ke rumah, menengok anak perempuannya. Hati seorang ibu memang tidak pernah salah, senang atau sedih hati anaknya, mereka pasti bisa merasakan. “Kau terlihat lebih kurus?” sapa mertuamu.

“Iya, Bu, kemarin aku demam,” jawab istrimu, singkat.

Mertuamu tahu, hati anaknya sedang pilu, maka ia datang menjenguk, sekadar menemani agar tak kesepian. “Kau masih muda, masih cantik, bahkan belum mempunyai anak. Kau tidak mau menikah lagi?”

Lengang sejenak. Istrimu segera memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu. “Aku sedang melakukan pekerjaan baik, Bu. Jangan menyuruhku untuk berhenti.”

Ya, pekerjaan baik seperti yang dikatakan penyair Makasar itu. Tetapi, ada satu yang kurang, penyair itu tidak menyebutkan batasan waktu kapan seseorang bisa disebut telah melakukan pekerjaan baik itu. Lima tahun, sepuluh tahun, dua puluh, atau bahkan selamanya?

“Pekerjaan apa? Pekerjaan menunggu? Pekerjaan yang hanya diam bersedih?” lanjut mertuamu.

Istrimu sedikit pun tak merasa marah atau kesal, sebaliknya, ia menunjukkan ketenangan seorang perempuan juara. “Setia. Aku akan setia kepada suamiku, aku akan melakukannya dengan baik, Bu.”

“Jika kau menikah lagi, itu tidak salah, itu hakmu, kau pantas mendapatkannya.”

“Tidak, Bu. Aku akan menyelesaikan pekerjaan baik ini,” tandas istrimu.

Dengan bingung yang berjejeran, mertuamu memilih diam. Dilihatnya wajah anak perempuannya sekali lagi. Wajahnya boleh berkata bahagia, tetapi hatinya pasti sakit. Mertuamu tahu itu.

***

            Hari terus berganti. Ia tetap menunggumu, dan kau tak punya hati, kau tak pulang-pulang. Sudah berapa buku yang telah ia baca di beranda rumah. Sudah berapa gelas susu yang ia buat untukmu setiap malam seusai membersihkan tempat tidur. Sudah berapa kali ia merasa bersedih. Semua tak terhitung lagi.

            Bibi, yang tahu persis keadaan istrimu saat itu, juga ikut bersedih. Setiap malam datang, istrimu akan duduk di tempat tidur dan memandangi segelas susu di meja sebelah dengan tatapan nanar. Saat itulah, bibi akan mengelus dada dan menghembuskan nafas panjang tanpa berani berkata atau bertanya apa pun.

            Istrimu ingin kembali dan menghidupkan momen masa lalu bersamamu. Bukankah hal itu juga disebut kelainan. Nostomania, iya, namanya nostomania. Kondisi psikologis yang menggambarkan seseorang dengan keinginan abnormal untuk kembali dan menghidupkan peristiwa di masa lalu. Jadi, istrimu tidak sepenuhnya normal, ia mengidap kelainan, walaupun tidak banyak orang yang mengetahuinya, kecuali bibi.

            Itulah yang membuat bibi ikut bersedih. Terkadang, ia tidak hanya melihat istrimu duduk dan memandangi susu. Tetapi ia berbicara, entah kepada siapa, kepada bayanganmu mungkin. Atau kepada susu itu. Bibi tak tahu.

            “Kau apa kabar? Kapan pulang? Aku selalu membersihkan tempat tidur setiap malam datang, dan membuat segelas susu untukmu,” ucap istrimu.

            Di pagi harinya, istrimu sering meminum susu yang telah ia buat semalam, susu yang sebetulnya untukmu. “Nanti malam, akan kubuatkan lagi yang lebih hangat,” bisiknya setelah menyesap habis susu itu.

            Lalu ia beranjak dari tempat tidur, membuka jendela dan memandang sebentar ke luar, ke jalan yang dulu sering kalian lewati. Tepat di ujung jalan itu, bus malam sialan, tanpa aba-aba, menabrakmu. Itulah yang masih menjadi pertanyaan istrimu, mengapa hanya kau yang tertabrak, mengapa tidak ia sekalian, padahal kalian sedang berjalan berdampingan. “Seandaninya aku tahu sopir bus itu sedang mabuk, aku tak akan mengajakmu membeli nasi goreng malam itu,”  bisiknya lagi sesudah selesai menyapu matanya.

            Sekarang, kau tahu yang dilakukan istrimu setelah kau tak di rumah? Ia masih melakukan perintahmu. Ia ingin melakukan pekerjaan dan menjadi istri yang baik. Ia akan melakukan itu selamanya.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Ada Cerita Tentang Wisuda

Kemarin saya wisuda, dan acaranya berlangsung sangat, biasa saja. Cenderung bikin ngantuk.
Tidak ada yang istimewa, kecuali kehadiran dan senyum wanita-wanita ini. Kau tahu? Beberapa orang saja dalam hidupmu, tidak banyak, mungkin tidak lebih dari 20 orang, sangat bisa membuat hidupmu bahagia dan berarti. Kualitas. Dan yang bisa berbuat yang demikian itu hanya manusia yang benar-benar manusia, bicara manis di depan juga manis di belakang. They did it.















Ya, tidak ada cerita tentang wisuda jika mereka tak hadir, menjabat tangan saya, memeluk, dan mendaratkan kasih sayang di pipi kanan dan kiri. 


(Cerpen) Racauan Pemuda Tanggung

Pertama, “Fakhri, nak, bangun.”
Kedua, “Fakhrii, bangun, nak.”
Ketiga, “Fakhriii, bangun. Banguuun!!!”
Ibu bilang aku terbangun pada ketujuh kalinya ibu membangunkan aku. Aku sedang bermimpi berada di surga, tempat terindah yang pernah ada bagi orang yang pantas. Di sana, istriku ada tujuh puluh tujuh orang, semuanya wanita, semuanya berambut panjang, semuanya cantik tak tertahankan. Aku kewalahan.
Belek di mata belum tuntas kubersihkan, suara Symphony 40 Mozart terdengar dari kamar sebelah, kamar adik perempuanku. Oh Mozart, kau ciptakan alunan maha indah seperti itu saat kau sedang bercinta dengan siapa? Dengan gaya apa kau melakukannya? Oh Mozart, beri tahu aku.
“Fakhriii...!!” Ibu kembali memanggil, dengan suara yang lebih keras. “Bangun, mandi!!”
Oh Mozart, aku baru bangun, ibu sudah menyuruhku mandi, aku sedang mendengarkanmu, tolong beri tahu ibu bahwa aku sedang mendengarkanmu. Perkara sepele seperti mandi tak pantas mengganggu kenikamatan alunan maha indah darimu. Oh Mozart,…

Review Buku Kiat Sukses Hancur Lebur – Martin Suryajaya

Saya bertemu buku ini dalam sebuah acara pameran buku yang diselenggarakan di Gedung Wanita Semarang. Saat itu, Kiat Sukses Hancur Lebur terpampang jelas di rak buku sebuah stand yang berada tepat di depan pintu masuk gedung ini. Saya terkejut saat membaca judulnya, untuk menjadi hancur lebur pun ada kiat-kiatnya, itulah pikiran saya waktu itu. 

Lantas saya berjalan mengelilingi stand-stand buku yang ada, saya membeli dua buku terbitan baNana yang lain—penerbit yang sama dengan Kiat Sukses Hancur Lebur, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dan The Catcher in the Rye. Kiat Sukses Hancur Lebur saya “tinggalkan” begitu saja. 

Beberapa bulan setelah itu, seorang teman mengajak saya untuk menghadiri acara Bincang Buku bersama penulisnya di malam tahun baru, Kiat Sukses Hancur Lebur, Martin Suryajaya.
Pembuka novel ini adalah sebuah paragraf yang dibuat melantur, seperti orang mabuk ciu literan yang dioplos sesuka hati: