Langsung ke konten utama

Cinta Memang Tak Pernah Tepat Waktu


Ada hal yang tiba-tiba menjadi mudah dikerjakan, ada masalah yang tiba-tiba muncul solusinya, ada perubahan perilaku yang tanpa disadari, ada rasa ingin lekas melewati malam dan bergegas menyambut pagi, dan ada banyak hal lain yang susah dijelaskan, semua karena cinta – jatuh cinta, tepatnya.

Bagi sebagian orang, cinta itu indah, mungkin. Mereka bisa mencintai dan dicintai. Tetapi bagi bagian yang lain, cinta hanya serupa polisi jalanan yang muncul di saat tidak tepat, saat tidak membawa SIM, saat tidak memakai helm, saat lupa menyalakan lampu, dan saat-saat ketidaktepatan lainnya. 

Puthut EA, seorang penulis dari Jogja, menulis novel dengan judul Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Novel itu berkisah tentang seorang lelaki (aktivis) yang berpisah dengan pasangannya, selama beberapa tahun, ia berusaha melupakan dan menyembuhkan hati. Tetapi sial, di tengah usahanya itu, sang wanita muncul dengan tiba-tiba di hadapannya. Kenapa saya bilang sial, karena wanita itu datang dengan status sudah menjadi milik lelaki lain. Maka ia memilih mencintai dengan cara yang paling sunyi.

Dan kenapa saya memilih judul postingan ini hampir mirip dengan judul novel itu, hanya dengan tambahan kata “memang”? Tentu saja dengan alasan yang sama, untuk meng-iya-kan bahwa cinta tak pernah tepat waktu. 

Tidak sefrontal itu sebenarnya, saya pernah mempunyai cinta yang tepat waktu, beberapa kali, dan itu dulu, dulu sekali. Tetapi, untuk yang tidak tepat waktu, saya sering mendapatkannya. Kasusnya hampir selalu sama, si wanita jatuh cinta lagi dengan orang lain padahal sudah mempunyai pasangan. Sialnya, orang yang mereka jatuh cintai itu saya. Beberapa menyenangkan di awal dan menyedihkan di akhir, beberapa yang lain tidak jelas kepastiannya. Dan itu sangat payah.

Saran saya kepada siapa saja yang jatuh cinta dengan orang lain saat berstatus berpasangan, pikirkan dalam-dalam quote Johnny Depp ini:

“If you love two people at the same time, choose the second one,
because if you really loved the first one,
you wouldn’t have fallen for the second.”

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan-catatan Kecil

Holaaa...
Jadi gini, ini adalah buku kecil yang saya tulis khusus untuk Pak Hanggoro dan teman-teman Teknik Sipil Unnes. Pak Hanggoro itu siapa? Beliau adalah salah satu dosen di Teknik Sipil. Buku ini menceritakan perjalanan singkat kami dari semester 1 sampai akhirnya sidang TA (Tugas Akhir). Saya yakin buku ini tidak dapat mewakili semua kejadian yang ada, namun inilah persembahan saya untuk teman-teman seperjuangan, semoga berkenan dan menjadi pengingat di hari kelak. Dan kalian bisa mengunduhnya secara gratis.
Unduh di sini.
Penampakan bukunya...




Terimakasih teman-teman, selamat membaca...

Tidak Ada Cerita Tentang Wisuda

Kemarin saya wisuda, dan acaranya berlangsung sangat, biasa saja. Cenderung bikin ngantuk.
Tidak ada yang istimewa, kecuali kehadiran dan senyum wanita-wanita ini. Kau tahu? Beberapa orang saja dalam hidupmu, tidak banyak, mungkin tidak lebih dari 20 orang, sangat bisa membuat hidupmu bahagia dan berarti. Kualitas. Dan yang bisa berbuat yang demikian itu hanya manusia yang benar-benar manusia, bicara manis di depan juga manis di belakang. They did it.















Ya, tidak ada cerita tentang wisuda jika mereka tak hadir, menjabat tangan saya, memeluk, dan mendaratkan kasih sayang di pipi kanan dan kiri. 


(Cerpen) Racauan Pemuda Tanggung

Pertama, “Fakhri, nak, bangun.”
Kedua, “Fakhrii, bangun, nak.”
Ketiga, “Fakhriii, bangun. Banguuun!!!”
Ibu bilang aku terbangun pada ketujuh kalinya ibu membangunkan aku. Aku sedang bermimpi berada di surga, tempat terindah yang pernah ada bagi orang yang pantas. Di sana, istriku ada tujuh puluh tujuh orang, semuanya wanita, semuanya berambut panjang, semuanya cantik tak tertahankan. Aku kewalahan.
Belek di mata belum tuntas kubersihkan, suara Symphony 40 Mozart terdengar dari kamar sebelah, kamar adik perempuanku. Oh Mozart, kau ciptakan alunan maha indah seperti itu saat kau sedang bercinta dengan siapa? Dengan gaya apa kau melakukannya? Oh Mozart, beri tahu aku.
“Fakhriii...!!” Ibu kembali memanggil, dengan suara yang lebih keras. “Bangun, mandi!!”
Oh Mozart, aku baru bangun, ibu sudah menyuruhku mandi, aku sedang mendengarkanmu, tolong beri tahu ibu bahwa aku sedang mendengarkanmu. Perkara sepele seperti mandi tak pantas mengganggu kenikamatan alunan maha indah darimu. Oh Mozart,…