Langsung ke konten utama

Beberapa Pertanyaan yang Saya Harapkan Diajukan oleh Orang Lain Untuk Saya


Sebetulnya, apa kegemaran anda?

Saya suka membaca dan menulis, apa saja. Kedua kegiatan itu bisa sangat menyenangkan, juga bisa sangat menyebalkan. Tapi lebih dari itu semua, saya suka tidur.

Apakah orang-orang sekitar anda tahu tentang hal itu?

Maksudnya membaca dan menulis? Saya rasa mereka tahu, saya sering, oh bukan-bukan, kadang-kadang saya menulis di blog, mengikuti acara tulis-menulis, dan melakukan hal bodoh agar dianggap keren oleh orang lain, yaitu memasang foto buku di media sosial. Jadi dari sana, mungkin mereka tahu kalau saya suka menulis.

Apa tanggapan mereka tentang hobi anda itu?

Beberapa ada yang mendukung, beberapa ada yang mengejek, beberapa lagi ada yang biasa saja. Saya tertarik kepada orang-orang yang mengejek ini, atau lebih tepatnya sinis. Saya semakin senang jika mereka semakin sinis, karena mereka semakin terlihat bodoh.

Ada masalah apa sama orang yang sinis? Nampaknya anda semangat sekali membicarakannya?

Tidak ada apa-apa sebetulnya, saya membenci sekaligus menyukai orang-orang yang gampang sinis dan tidak ramah. Pertama itu tadi, mereka akan terlihat bodoh karena mendahulukan komentar atau pendapat sendiri sebelum bertannya, dan hal itu lucu sekali. Kedua, dunia semakin kekurangan orang ramah, itu menyedihkan, apalagi di Indonesia. Sekarang orang-orang lebih ingin terlihat manis, tampan, cantik, dan baik di dalam foto, ketimbang di dunia nyata.

Siapa penulis yang anda idolakan?

Dari Indonesia, saya suka Eka Kurniawan. Gaya penulisannya liar sekali. Tengilnya terhadap pemerintah dalam tulisannya unik, lucu dan sederhana. Saya juga menyukai Aan Mansyur, bagi yang belum berpasangan, saya sarankan untuk membaca Aan Mansyur. Kalian akan dibawa ke imajinasi-imajinasi yang sangat menyenangkan. Baca semua tulisannya, baik puisi, cerpen, atau novelnya.

Selain dua nama itu, ada nama lain?

Banyak sekali sebenarnya, tapi memang dua nama itu yang sesuai dengan karakter saya. Namun jauh sebelum saya mengenal Eka dan Aan. Saya sudah membaca Tere Liye, bagi siapapun yang baru gemar membaca, Tere Liye adalah pilihan tepat. Bahasanya sederhana, alur ceritanya mudah diikuti, dan dia sudah banyak penggemarnya. Jadi kalian tidak akan terlihat tertinggal dari yang lain, karena kalian juga membaca seperti yang lain. Hahahaha...

Lepas dari tulis menulis, apa hal lain yang sebenarnya anda sukai?

Saya suka olahraga dan jalan kaki. Untuk olahraga, saya kadang-kadang masih menjalankannya bersama teman-teman di lapangan futsal berbayar. Untuk jalan kaki, saya hampir tidak pernah melakukannya, kecuali jalan dari tempat parkir motor ke tempat tujuan. Atau dari kamar tidur ke toilet. Begitu.

Sebetulnya saya selalu membayangkan untuk jalan kaki ke mana pun, terutama ke tempat-tempat yang dekat, misalnya ke kampus atau ke tempat makan. Seperti yang dilakukan orang-orang Inggris dan Eropa sana. Tapi di Indonesia, setidaknya di tempat saya tinggal, hal semacam itu tidak begitu memungkinkan. Atau saya yang terlalu banyak alasan? Entahlah hahaha.

Anda pernah ke Inggris atau negra lain di Eropa?

Belum pernah hahaha.

Dari mana anda tahu kalau mereka gemar jalan kaki?

Dari film, saya melihatnya di film-film. Entah itu beneran atau bohong, saya tidak tahu juga hahaha.

Itu beneran, saya pernah ke sana.

Ah sial hahaha. Anda lucu juga.

Hahaha maaf. Kalau boleh tahu, setelah bertemu saya ini, anda akan kemana?

Saya akan pulang, lalu menulis walaupun hanya satu halaman, habis itu tidur. Atau langsung tidur saja. Ah kau tahu? Tidur lebih menyenangkan dari apapun.

 ***

Saya menulis ini sembari mendengarkan Agus Noor membaca puisi singkat karya Joko Pinurbo, begini bunyi puisi itu:

Pada hari minggu, Tuhan istirahat
membaca sajak-sajak kita
Hari ini aku tak menulis puisi
kepalaku sedang sembuh dan normal, permisi


Ya, hari ini saya tak menulis puisi, kepala saya sedang sembuh dan normal. Maka saya menulis catatan ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Ada Cerita Tentang Wisuda

Kemarin saya wisuda, dan acaranya berlangsung sangat, biasa saja. Cenderung bikin ngantuk.
Tidak ada yang istimewa, kecuali kehadiran dan senyum wanita-wanita ini. Kau tahu? Beberapa orang saja dalam hidupmu, tidak banyak, mungkin tidak lebih dari 20 orang, sangat bisa membuat hidupmu bahagia dan berarti. Kualitas. Dan yang bisa berbuat yang demikian itu hanya manusia yang benar-benar manusia, bicara manis di depan juga manis di belakang. They did it.















Ya, tidak ada cerita tentang wisuda jika mereka tak hadir, menjabat tangan saya, memeluk, dan mendaratkan kasih sayang di pipi kanan dan kiri. 


(Cerpen) Racauan Pemuda Tanggung

Pertama, “Fakhri, nak, bangun.”
Kedua, “Fakhrii, bangun, nak.”
Ketiga, “Fakhriii, bangun. Banguuun!!!”
Ibu bilang aku terbangun pada ketujuh kalinya ibu membangunkan aku. Aku sedang bermimpi berada di surga, tempat terindah yang pernah ada bagi orang yang pantas. Di sana, istriku ada tujuh puluh tujuh orang, semuanya wanita, semuanya berambut panjang, semuanya cantik tak tertahankan. Aku kewalahan.
Belek di mata belum tuntas kubersihkan, suara Symphony 40 Mozart terdengar dari kamar sebelah, kamar adik perempuanku. Oh Mozart, kau ciptakan alunan maha indah seperti itu saat kau sedang bercinta dengan siapa? Dengan gaya apa kau melakukannya? Oh Mozart, beri tahu aku.
“Fakhriii...!!” Ibu kembali memanggil, dengan suara yang lebih keras. “Bangun, mandi!!”
Oh Mozart, aku baru bangun, ibu sudah menyuruhku mandi, aku sedang mendengarkanmu, tolong beri tahu ibu bahwa aku sedang mendengarkanmu. Perkara sepele seperti mandi tak pantas mengganggu kenikamatan alunan maha indah darimu. Oh Mozart,…

Review Buku Kiat Sukses Hancur Lebur – Martin Suryajaya

Saya bertemu buku ini dalam sebuah acara pameran buku yang diselenggarakan di Gedung Wanita Semarang. Saat itu, Kiat Sukses Hancur Lebur terpampang jelas di rak buku sebuah stand yang berada tepat di depan pintu masuk gedung ini. Saya terkejut saat membaca judulnya, untuk menjadi hancur lebur pun ada kiat-kiatnya, itulah pikiran saya waktu itu. 

Lantas saya berjalan mengelilingi stand-stand buku yang ada, saya membeli dua buku terbitan baNana yang lain—penerbit yang sama dengan Kiat Sukses Hancur Lebur, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dan The Catcher in the Rye. Kiat Sukses Hancur Lebur saya “tinggalkan” begitu saja. 

Beberapa bulan setelah itu, seorang teman mengajak saya untuk menghadiri acara Bincang Buku bersama penulisnya di malam tahun baru, Kiat Sukses Hancur Lebur, Martin Suryajaya.
Pembuka novel ini adalah sebuah paragraf yang dibuat melantur, seperti orang mabuk ciu literan yang dioplos sesuka hati: