Langsung ke konten utama

Puisi-puisi Ini Ingin Memelukmu Selagi Kita Belum Menikah

Belajar Gila

Aku pernah memakai kaus kaki belang-belang
warna hitam putih sepanjang lutut
yang kudapat dulu waktu di penjara.
Rok mini juga terpasang sempurna di tubuhku,
dan payudaraku, kubiarkan bergantungan tanpa penyangga.

Lain waktu, aku pernah memakai kaus kecil
yang ujungnya hanya mampu menjangkau puserku,
sedangkan celananya hanya sampai di atas lutut.
Kubiarkan tubuhku dinikmati angin-angin jalanan.

Besok, aku berencana memakai rok panjang
yang dapat menyentuh mata kaki. Dan mengenakan
kaus yang tidak menempel ketat tubuhku,
aku ingin bergaya tampil normal.

Lalu berjalan ke luar rumah, memanjat pohon mangga,
memilih satu dahan dan menjepitnya dengan paha dan betisku.
Maka kepalaku akan berada di bawah, kakiku berada di atas,
rokku akan menutup payudara, kausku akan menutup kepala.

Jangan protes,
aku hanya berkata ingin tampil normal,
bukan bertingkah normal.
Dan semoga, besok aku tidak lupa memakai celana dalam.



Menjadi Poster

Aku ingin menjadi poster yang dipasang di dinding kamarmu.
Aku ingin mengamati bagaimana tidurmu,
bagaimana suara dengkurmu,
dan seperti apa air liurmu mengalir membasahi pipi.

Aku ingin menjadi orang pertama yang tahu
apapun yang terjadi di kamarmu.
Saat suamimu marah hanya karena kemeja
yang tidak rapi terlipat, dan menyaksikanmu
berkaca-kaca karena hal itu.

Biarkan di luar bulan sedang purnama, dan jendela
kamar kalian yang sengaja dibiarkan terbuka.
Aku akan berbalik badan dan menutup mata, saat
suamimu dengan sembarangan menikmati tubuhmu.

Aku ingin melepas tempelanku pada dinding
saat suamimu pergi ke entah.
Lalu mendekap erat tubuhmu yang kesepian,
dan melumat mulutmu yang masih
menyimpan manis bibirku.



Untukmu

Di teh yang dingin ini,
kuseduhkan pagi yang hangat untukmu.
Aku berjalan ke barat,
untuk menemuimu di timur.



Pengakuan

Ada hal yang tiba-tiba menjadi mudah dikerjakan,
ada masalah yang tiba-tiba muncul solusinya,
ada perubahan perilaku yang tanpa disadari,
ada rasa ingin lekas melewati malam dan bergegas menyambut pagi,
dan ada banyak hal lain yang susah dijelaskan,
semua karena cinta – jatuh cinta.

Kau sering bertanya tentang mengapa aku menyukaimu,
dengan senang hati aku menjawabnya.
Karena aku tahu, perempuan selalu butuh penjelasan dan pengakuan.
Namun tak pernah aku menanyakan hal serupa,
aku yakin cintamu tulus,
cinta yang tulus tidak butuh alasan apapun.
Aku percaya cintamu tulus.

Berjalanlah mendampingiku, bukan di belakang atau pun di depan,
tutup kuping untuk omangan-omangan yang kurang penting.
Hidup teralu menyedihkan jika cemas terhadap omongan orang.
Sehebat itulah dirimu membuatku bernyali mengatakan itu.

Mencintaimu aku sudah,
menyayangimu itu menyenangkan.
Hanya kepadamu, akan kusudahi sendiri ini.



Cerita Kakek

Aku pernah berbicaara dengan kakek tentang masa kecil ibu.
Ia menceritakan sembari berusaha menahan air mata,
namun sesekali juga melepas tawa dari bibirnya.

Ia masih mengingat dengan tepat
bagaimana tingkah ibu waktu kecil.
Ibu tidak pernah bisa ditenangkan saat
menangis jika kemauannya tidak dituruti, begitu katanya.

Sore itu kami sedang duduk di halaman rumah,
ayam-ayam peliharaan berbondong pulang ke kandang.
Kakek membetulkan posisi duduknya, sarungnya yang usang
menyelip di antara pantat dan kakinya.

Anak perempuanmu, persis ibumu waktu kecil.
Periang, banyak bicara, dan tidak bisa dikalahkan.
Untuk itu aku sering mengajak jalan-jalan
dan menggendongnya, kata kakek kemudian.

Saat bertemu ibu,
aku bercerita bahwa kakek rindu menggendongnya.
Ibu menangis, aku terdiam, anak perempuanku
meloncat minta digendong.

Komentar

  1. Berjalan ke barat untuk menemuimu di timur.. Supeeerrrb

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Ada Cerita Tentang Wisuda

Kemarin saya wisuda, dan acaranya berlangsung sangat, biasa saja. Cenderung bikin ngantuk.
Tidak ada yang istimewa, kecuali kehadiran dan senyum wanita-wanita ini. Kau tahu? Beberapa orang saja dalam hidupmu, tidak banyak, mungkin tidak lebih dari 20 orang, sangat bisa membuat hidupmu bahagia dan berarti. Kualitas. Dan yang bisa berbuat yang demikian itu hanya manusia yang benar-benar manusia, bicara manis di depan juga manis di belakang. They did it.















Ya, tidak ada cerita tentang wisuda jika mereka tak hadir, menjabat tangan saya, memeluk, dan mendaratkan kasih sayang di pipi kanan dan kiri. 


(Cerpen) Racauan Pemuda Tanggung

Pertama, “Fakhri, nak, bangun.”
Kedua, “Fakhrii, bangun, nak.”
Ketiga, “Fakhriii, bangun. Banguuun!!!”
Ibu bilang aku terbangun pada ketujuh kalinya ibu membangunkan aku. Aku sedang bermimpi berada di surga, tempat terindah yang pernah ada bagi orang yang pantas. Di sana, istriku ada tujuh puluh tujuh orang, semuanya wanita, semuanya berambut panjang, semuanya cantik tak tertahankan. Aku kewalahan.
Belek di mata belum tuntas kubersihkan, suara Symphony 40 Mozart terdengar dari kamar sebelah, kamar adik perempuanku. Oh Mozart, kau ciptakan alunan maha indah seperti itu saat kau sedang bercinta dengan siapa? Dengan gaya apa kau melakukannya? Oh Mozart, beri tahu aku.
“Fakhriii...!!” Ibu kembali memanggil, dengan suara yang lebih keras. “Bangun, mandi!!”
Oh Mozart, aku baru bangun, ibu sudah menyuruhku mandi, aku sedang mendengarkanmu, tolong beri tahu ibu bahwa aku sedang mendengarkanmu. Perkara sepele seperti mandi tak pantas mengganggu kenikamatan alunan maha indah darimu. Oh Mozart,…

Review Buku Kiat Sukses Hancur Lebur – Martin Suryajaya

Saya bertemu buku ini dalam sebuah acara pameran buku yang diselenggarakan di Gedung Wanita Semarang. Saat itu, Kiat Sukses Hancur Lebur terpampang jelas di rak buku sebuah stand yang berada tepat di depan pintu masuk gedung ini. Saya terkejut saat membaca judulnya, untuk menjadi hancur lebur pun ada kiat-kiatnya, itulah pikiran saya waktu itu. 

Lantas saya berjalan mengelilingi stand-stand buku yang ada, saya membeli dua buku terbitan baNana yang lain—penerbit yang sama dengan Kiat Sukses Hancur Lebur, Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi dan The Catcher in the Rye. Kiat Sukses Hancur Lebur saya “tinggalkan” begitu saja. 

Beberapa bulan setelah itu, seorang teman mengajak saya untuk menghadiri acara Bincang Buku bersama penulisnya di malam tahun baru, Kiat Sukses Hancur Lebur, Martin Suryajaya.
Pembuka novel ini adalah sebuah paragraf yang dibuat melantur, seperti orang mabuk ciu literan yang dioplos sesuka hati: